[TJ] Mengantuk Saat Khutbah Jum’at

Pertanyaan:

Redaksi SYi@R ISLAM mendapat pertanyaan berikut: Saya sering melihat banyak orang yang mengantuk ketika mendengarkan khutbah ketika shalat jum’at. Apakah itu membatalkan wudlu dan harus wudlu lagi ketika akan shalat? Terima kasih atas jawabanya.

Jawab:

Dalam kitab Safinatunnajah (kitab paling dasar dalam kaidah fiqih) dijelaskan ada beberapa hal yang menyebabkan batalnya wudlu seseorang, diantaranya:

1.    Keluarnya sesuatu dari salah satu kedua lubang, baik dari depan (qubul) atau belakang (dubur) misalnya air kencing, darah, buang angin, keluar ulat dll. Keluarnya air mani tidak membatalkan wudlu tetapi mewajibkan seseorang untuk mandi janabat (mandi besar).

 

2.    Hilang akal disebabkan tidur atau selainnya (misalkan karena gila atau mabuk) kecuali tidurnya seseorang sambil duduk yang merapatkan (maaf) pantatnya pada tanah (lantai). Jadi, tidak batal wudlunya seseorang karena mengantuk saat duduk mendengarkan khutbah jum’at asalkan posisi duduknya tetap rapat dan tidak berubah. Tidur dengan posisi seperti ini tidak akan memungkinkan terjadinya buang gas karena jalan keluarnya tertutup. Begitu juga, tidak batal wudlu seseorang karena mengantuk yaitu tidur tapi masih bisa mendengar suara orang yang berbicara di sampingnya (tidur-tidur ayam), asalkan posisi duduknya tetap dan tidak berubah. Sebuah hadist riwayat Muslim menjelaskan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Saw pernah tertidur (dengan posisi duduk yang tetap-penj), kemudian mereka shalat dan tidak berwudlu lagi. Tetapi, jika seseorang duduk lalu tertidur/mengantuk sambil bersandar pada tembok atau lainnya (sendean: bahasa jawa) saat mendengarkan khutbah jum’at, maka wudlu-nya menjadi batal. Posisi tidur sambil bersandar ini dihukumi sama saja seperti tidur dengan posisi terlentang/berbaring yang membatalkan wudlu. Oleh karena itu, ia harus wudlu lagi ketika akan menunaikan shalat jum’at.

 

3.    Bersentuhan kedua kulit antara laki-laki dan perempuan yang baligh (dewasa) yang bukan saudara (muhrim) tanpa penghalang apa-apa. Dalam fiqih, yang termasuk muhrim diantaranya Bapak, Ibu, Kakek, Nenek, Mertua (setelah ada ijab qabul pernikahan), Paman, Bibi dll. Sedangkan sentuhan kulit antara suami istri, sepupu itu membatalkan wudlu. Jika sentuhan kulit saja membatalkan wudlu, maka berhubungan suami istri sudah pasti akan membatalkan wudlu dan wajib mandi. Seperti dijelaskan dalam Al Qur’an (Firman Allah): “…atau kamu menyentuh perempuan” (QS. Annisa: 43)

 

 

4.    Menyentuh kemaluan depan (qubul) atau belakang (dubur) dengan menggunakan telapak tangan (bagian dalam) atau dengan ujung jari. Tidak batal wudlu jika menyentuh kemaluan dengan menggunakan punggung tangan (bagian atas).

 

Demikianlah penjelasan fiqih tentang hal-hal yang membatalkan wudlu. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s