Tragedi Ulat Bulu!

Berita apakah yang sekarang populer di televisi? Banyak. Salah satunya adalah  fenomena serangan ulat bulu. Menyaksikan berita tersebut, saya merasa ngeri sekaligus geli. Tak bisa dibayangkan dalam waktu yang sesingkat itu, serangan ulat bulu (Macrothylacia rubi) benar-benar menggila di beberapa wilayah di Indonesia. Fenomena ini muncul pertama kali di Probolinggo. Saat itu, ulat bulu menyerang pohon-pohon mangga milik warga. Semakin hari populasinya semakin meningkat drastis. Jumlahnya tak lagi ribuan, tetapi jutaan. Kini, ulat bulu pun tidak sekedar ‘menyerang’ pohon tetapi juga menempel di mana-mana, mulai dari rumah warga, jalan, bahkan tempat ibadah. Semua bergidik ngeri, sekaligus geli. Bahkan ada beberapa warga yang nekat memakai payung gara-gara takut kejatuhan makhluk mungil tetapi bikin gatal ini. Perasaan warga menjadi was-was, tidur pun jadi tak tenang. Mereka tak bisa membayangkan, apa jadinya jika ulat bulu yang gatal itu menempel di tubuh mereka ketika tidur. Hiyy! Pohon-pohon mangga pun gagal dipanen dan sejuta kepanikan lain.

“Teror’ ulat bulu pun meluas. Berbagai cara dilakukan untuk menanggulangi serangan ulat bulu yang kian mengganas itu, mulai dari menyemprot dengan insektisida, menebang pohon untuk mengurangi populasinya, bahkan membakarnya. Kini, serangan ulat bulu tidak hanya terjadi di Probolinggo, tetapi meluas ke wilayah-wilayah lain seperti Kendal, Jombang, Lumajang, Pasuruan, Semarang. Bahkan sempat terdeteksi juga di Bekasi dan Bali. Masya Allah.. Saya benar-benar tak habis pikir, kok bisa sih, ulat sebanyak itu datang dengan tiba-tiba? Apakah faktor cuaca, pengaruh gempa dan gunung merapi, ataukah ada faktor lain yang tak pernah kita sadari?

Baiklah. Kita tinggalkan sejenak negeri kita tercinta. Terbanglah ke Mesir dengan mesin waktu. Ternyata, fenomena semacam ini pun pernah terjadi di zaman dulu, zaman para nabi. Lebih tepatnya terjadi zaman Nabi Musa AS. Sebagaimana kita ketahui, Nabi Musa AS adalah salah satu Ulul Azmi (Rasul yang tegar menghadapi cobaan). Dalam Qishashul Anbiyaa, Nabi Musa AS digambarkan sebagai seorang pemuda kuat dan gagah berani yang diangkat oleh Allah sebagai Rasul setelah menerima wahyu di bukit Tursina. Beliau diperintahkan Tuhan untuk menyampaikan risalah-Nya kepada seorang Fir’aun (dalam sejarah disebutkan namanya adalah Ramses II) yang tak tain adalah ayah angkatnya sendiri. Nabi Musa mengajak Fir’aun untuk beriman kepada ajaran Tauhid. Berbagai upaya dilakukan, salah satunya adalah pertarungan dengan para tukang sihir istana. Namun Allah, melalui mukjizatnya telah mengagungkan agama Tauhid ini tetap berjaya. Para tukang sihir pun takjub ketika tongkat Nabi Musa AS yang telah berubah menjadi ular itu memakan habis ular-ular milik si tukang sihir istana.

Namun kekalahan tukang sihir itu tidak lantas membuat Fir’aun jera. Sebaliknya Firaun justru semakin sombong dan merasa dirinya adalah tuhan yang layak disembah oleh rakyatnya. Nabi Musa tak menyerah. Kembali ia menghadap Fir’aun agar mau menerima ajakannya menyembah Allah dan mau membebaskan Bani Israil, kaum Nabi Musa, dari perbudakan. Tetapi Fir’aun tetap ngotot pada kekuasaannya.

Akibat sikap keras kepala sang Fir’aun, negerinya dilanda bencana. Pertama, semua air di negeri Mesir berubah menjadi darah. Masya Allah. Tentu saja semua warga panik. Apa yang harus mereka lakukan ketika air sebagai kebutuhan  vital (penting) tidak lagi bisa dikonsumsi? Maka Fir’aun pun berjanji untuk beriman kepada ajaran Nabi Musa jika semua air berubah seperti sedia kala. Nabi Musa pun berdoa agar air yang berubah menjadi darah tersebut kembali menjadi air biasa agar bisa dipergunakan sebagaimana mestinya.

Tetapi Fir’aun ingkar janji. Setelah bencana itu hilang, ia tetap membandel, tak mau beriman. Maka Allah pun mengirim bencana kedua yakni mendatangkan berjuta-juta katak (kodok). Dia juga mengirim bencana lain seperti hujan es, penyakit bisul dan sampar.  Tidak habis sampai disitu, serangan makhluk-makhluk lain pun datang bertubi-tubi. Allah mengirim ke negeri itu berjuta-juta belalang, lalat dan kutu. Gelap gulita melanda Mesir selama tiga hari. Bencana lain datang, tiap anak laki-laki sulung keluarga Bangsa Mesir entah mengapa tiba-tiba meninggal dunia. QS. AL A’RAAF. 133. Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

Sejenak saya menghela nafas dan mulai merenungi diri. Hufft. Mungkinkah wabah serangan ulat bulu (Macrothylacia rubi) yang menyerang bangsa Indonesia ada kemiripan dengan kisah Nabi Musa di atas? Entahlah. Rasanya tak mungkin, ulat bulu yang kecil itu menjelma hewan ‘buas’ yang menakutkan karena jumlahnya melebihi ambang batas normal dalam waktu singkat itu. Siapakah yang mengirimnya dalam berjumlah jutaan itu kalau bukan Rabbul Izzati untuk sebuah tanda: PERINGATAN atau mungkin HUKUMAN? Fir’aun adalah wujud keserakahan pada kekuasaan. Sihir adalah ajaran-ajaran sesat yang dihembuskan orang-orang kafir yang membutakan kehidupan akhirat kita.

Sepertinya ada yang salah dengan cara berkehidupan kita selama ini. Tontonan-tontonan vulgar di televisi dan internet, pergaulan bebas, pemimpin yang mulai tak amanah, rakyat yang sulit diatur, akhlak baik yang mulai ditinggalkan, para ulama dicaci maki tetapi publik figur (artis) dipuja puji, orang-orang baik disepelekan tetapi orang yang berkuasa dan berharta justru dihormati, remaja/pemuda yang salah pergaulan dan orang-orang tua yang tak lagi peduli. Mungkinkah itu semua tanda yang bahwa Tuhan mulai jengah dengan tingkah kita? Maka, ketika bencana itu datang, tidak ada jalan lain: “FAFIRUU ILALLAH” (kembalilah kepada Allah). Ampuni kami, Rabb…

Indramayu, 13 April 2011

Allrights reserved © 2011

By Ibnu Atoirahman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s