Sejenak (menjadi) Anak-anak!

Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah menemukan sebuah buku cerita menarik di perpustakaan sekolah. Buku itu berkisah tentang pengalaman keseharian anak SD. Dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami, aku bisa melihat bagaimana tokoh-tokoh dalam kisah itu bergaul akrab dengan teman-teman di sekolah, bermain gundu di pekarangan rumah, menjaga adik yang masih kecil sampai bermain dengan kucing kesayangan. Suasana alam pedesaan pun mewarnai cerita dalam buku tersebut. Detilnya aku lupa. Dan celakanya, aku juga lupa nama judul bukunya. Zaman SD dulu, kalo baca buku jarang mengingat nama judulnya, apalagi penulisnya. *maklum anak-anak (hehe. Alesan!). Bagiku, kisah-kisah dalam buku itu sangat menarik. Aku seperti terseret dalam kehidupan mereka. Tentu saja, karena kesamaan usia: anak-anak. Juga kesamaan latar/setting karena aku memang tinggal di desa. Sekolahku, sekolah “mewah” alias mepet sawah (haha..), yang kiri kanannya dikelilingi sawah-sawah. Aku masih ingat, jika waktu istirahat tiba, sesekali bersama teman-teman, kita nongkrong di belakang sekolah, menikmati semilir angin sambil memandang pematang sawah yang hijau (*haiiyah, kesannya romantis sekali… ).

Setelah gede gini, aku baru tahu kalo buku cerita semacam itu namanya novel. Haha.. Dan tiba-tiba aku rindu mengenang masa kanak-kanak. Hingga akhirnya, aku berkenalan dengan seorang anak lelaki bernama Sakti. Dan di sebelahnya ada seekor sapi yang ia kenalkan padaku bernama Rebo.

“Rebo??!” aku mengernyitkan dahi. “Pasti temennya Kemis, Jum’at, Sabtu, Minggu” kataku ngasal sambil nyengir. Hehe..

“Iya, karena sapiku ini lahir hari Rabu.” Kata Sakti dengan bangga.

Oh.. pantas. Dan akhirnya aku pun tahu, Sakti dan dan sapinya yang bernama Rebo itu seperti sahabat yang tak terpisahkan. Rebo sendiri lahir prematur dan hampir mati. Ibunya dijual oleh Pak Bagino, pemilik sapi yang selama ini mempercayakan Sakti dan keluarganya untuk merawat. Berkat ketelatenan Sakti, Rebo akhirnya terselamatkan dan tumbuh menjadi sapi yang sehat. Sungguh sebuah keajaiban Allah yang tak terduga. Dan tahukah engkau kawan, siapakah yang menjadi ibu angkat Rebo waktu itu? Dialah si ibu kambing baik hati yang merelakan air susunya dibagi untuk Rebo dan anak-anaknya, sampai ia tumbuh menjadi sapi dewasa yang sangat lincah.

Bagi Sakti, Rebo adalah sahabat sekaligus inspirasi. Sakti adalah sosok anak lelaki yang ulet, rajin bekerja, patuh pada orang tua, sholeh dan pandai menulis cerita. Rebo pun pernah menjadi inspirasi Sakti bermain drama dan menulis cerita untuk lomba. Hasilnya? Tanpa diduga Sakti menjadi juara.

Dan selayaknya kisah persahabatan sejati, tak lengkap rasanya jika tak diuji. Sakti pun harus merelakan Rebo untuk dijual demi membantu biaya persalinan tetangganya.

“Bagaimanakah rasanya kehilangan?” tanyaku pada Sakti.

Ia hanya menunduk. Aku tahu, apa yang ia rasakan. Namun Sakti hanya tersenyum. Ia sepertinya ikhlas melepas pergi Rebo untuk sebuah kebaikan. Aku sungguh tersindir. Ah, bisakah aku seperti Sakti yang rela melepaskan segala yang kita cintai demi orang lain? Padahal aku tahu, Sakti dan keluarganya bukanlah orang yang berkecukupan. Tetapi ia rela berbagi dengan apa bisa ia beri. Ah, Sakti. Sungguh mulia hatimu.

Hari-hari tanpa Rebo adalah hari-hari sunyi bagi Sakti. Apalagi ketika ia tahu, Rebo diperlakukan kasar oleh pemilik barunya ketika tidak bisa membajak sawah dengan baik. Hanya derai air mata yang membasahi pipi. Sakti menangis.

“Sakti, sabar ya!” aku menggenggam tangannya erat. Lagi-lagi ia hanya tersenyum. Tapi aku tahu, ada segumpal galau tak terhalau dalam dadanya.

Apakah Sakti akan bertemu lagi dengannya sapinya, Rebo? Itulah alasan kenapa aku harus mengenalmu, Sakti. ^^v

Di hari yang berbeda, aku berkenalan dengan anak perempuan berkuncir dua bernama Sriwasti. Dia juga masih duduk di bangku SD, kelas 6. Apakah ia teman Sakti? Entahlah. Yang jelas, Sri hidup dalam keluarga yang serba kekurangan dan terancam tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP karena tidak memiliki biaya. Maka semenjak saat itu, ketika tahu ada pengumuman lomba lari, Sri bertekad untuk ikut.

“Barangkali saja, jika aku menang, aku bisa dapat beasiswa melanjutkan SMP” kata Sri tersenyum diiringi binar di matanya. Tring! Secercah harapan pun mulai tercipta.

Namun, masalah muncul. Ternyata, Sri tidak diperbolehkan ikut seleksi lomba oleh Pak Sigit, gurunya, karena kelas 6 harus banyak belajar untuk ujian kelulusan.

“Tolonglah, Pak. Biarkan aku ikut. Biarkan aku ikut..” katanya mengiba diringi derai air mata. Aku jadi teringat Ali dalam film keren Children of Heaven, mengiba hal yang sama.

Akhirnya, Pak Sigit pun memperbolehkan Sri untuk ikut tes dengan beberapa persyaratan. Kembali kutemui binar itu di matanya. Sri pun menyanggupinya.

Celakanya, sebelum tes, kaki Sri terluka karena terpeleset ketika membantu emaknya mencari kayu bakar.

“Wuah, bagaimana ini? Apakah Sri akan ikut tes lomba lari itu? “ aku mulai khawatir.

Aku benar-benar sedih dengan apa yang terjadi dengan Sri. Dan tanpa diduga, Sri datang. Ia berjuang. Dan akhirnya… ia menang. *hahay… inget slogan pelajaran sejarah dulu ‘vini, vidi, vici!”

“Ternyata, ia berhasil. Berhasil..” seruku gembira. *pake soundtrack Dora the explorer. Hihi..

Meski akhirnya kalah dari anak lelaki –karena harus berlari dengan kaki yang sakit– Sri telah membuktikan bahwa dirinya bersungguh-sungguh untuk ikut perlombaan. Dan Allah memang Maha Adil. Kesungguhan Sri pun berbuah manis. Pak Sigit hanya ingin mengujinya. Ia pun diperkenankan ikut lomba di kecamatan. Luka di kakinya pun segera diobati. Syukurlah…

Hari perlombaan tingkat kecamatan tiba. Bagi Sri, ini adalah pengalaman pertamanya. Guru-gurunya, sahabatnya (Isna), adiknya (Suraji), bapak dan emaknya, semua mendukung dan mendoakannya. Karena memiliki tekad yang kuat untuk menang, akhirnya Sri pun berhasil finish di urutan pertama. *horee, Sri menang! Namun itu hanya satu tantangan yang berhasil ditaklukkan Sri. Di depannya kini, tantangan itu kian berat. Akankah ia bisa melewati segalanya dan mendapat beasiswa SMP? Itulah alasan kenapa aku berusaha mengakrabinya. ^^b

Ada satu kisah yang membuatku hampir menangis. Bagaimana dramatisnya sang emak yang ingin membelikan sepatu baru untuk lomba gara-gara sepatu Sri sudah bolong. Harganya? Bagi emak, sepatu itu sangat mahal. Bahkan ia rela menguras tabungan yang tidak seberapa itu hanya untuk membelikan sepatu baru. Dan tahukah engkau, ketika melewati sungai, sebelah sepatu baru yang dibawa emak hanyut terbawa arus. Oh, tidaaaaak… Emak. Bapak. Sri. Slide wajah mereka bergantian mengisi memori-ku. Untungnya Allah mengganti sepatu hanyut itu dengan sepatu baru pemberian Isna, sahabat Sri yang begitu tulus memberi tak harap kembali. *selalu ada kemudahan setelah kesulitan.

Berkenalan dengan Sakti dan Sriwasti (*curiga nih, kenapa nama tokohnya huruf depannya ‘S” semua, hehe…) mengingatkanku pada buku cerita masa kanak-kanak yang pernah kubaca itu ketika masih SD dulu. Berkenalan dengan mereka, aku serasa muda kembali (*hahay, aku kan forever young, wkwkwk), menjadi anak-anak meski sejenak. Sakti dan Sriwasti adalah anak-anak Indonesia, yang meski hidup serba kekurangan tetap berusaha berjuang untuk mencapai impian.  Bagiku, kisah mereka telah mengajarkan kita banyak hal. Tentang bagaimana menghormati kedua orang tua dan guru; tentang kasih sayang dan persahabatan yang tulus; tentang kegigihan dalam berusaha; tentang kejujuran; dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Bagiku, novel ini sangat bergizi untuk bacaan anak-anak zaman sekarang di tengah derasnya arus globalisasi yang ditandai dengan membanjirnya komik-komik vulgar yang tidak cocok untuk anak-anak, buku-buku cerita yang meskipun lucu tetapi tidak mendidik, dan bacaan-bacaan lain yang tidak baik untuk tumbuh kembang anak-anak kita.

Novel-novel yang kubaca kali ini seakan memenuhi ruang rindu masa kanak-kanakku. Jika dulu aku pernah lupa judul dan nama penulisnya, maka kali ini, aku tak kan pernah melupakan judul dan penulisnya: SAKTI DAN SAPI REBO. PELARI CILIK. Karya SHABRINA WS. Suatu saat, anak-anakku harus membaca bacaan-bacaan seperti ini. Tetapi, sebelum punya anak, akan kuajak anak-anak di PONDOK HATI Reading park/taman bacaan untuk membacanya terlebih dahulu. Buku bacaan anak-anak yang sangat bergizi. Yummy!


In the rama you, 16 Juni 2011

Ketika dini hari ada gerhana bulan total 

*tengs to Mbak Eni Shabrinaws Pacitan yang telah memberi donasi buku ini untuk pondokhati🙂 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s