Sya’ban dan Cabang Pohon Kebaikan

Aktifitas sekolah sudah mulai kembali bergeliat di minggu-minggu belakangan ini. Anak-anak usia pelajar telah aktif kembali ke sekolah masing-masing dengan membawa segenggam harapan baru, semoga tahun ajaran baru ini lebih baik daripada tahun sebelumnya. Bagi siswa-siswa baru pun demikian. Mereka dikenalkan pada sebuah lingkungan baru yang nyaris berbeda dengan lingkungan sebelumnya. Dengan harapan yang sama, seraya menggumamkan segenggam doa dan binar-binar bahagia, mereka pun memulai kembali kewajiban menuntut ilmu sebagaimana diperintahkan Rasulullah Saw, “Menuntut ilmu adalah fardlu bagi setiap muslim dan muslimat”.

Namun sejenak, mari kita tengok sejenak keadaan mereka beberapa bulan sebelumnya. Setelah berjuang keras mengikuti ujian akhir dan ujian kenaikan kelas, kini tiba saatnya mereka menerima hasil evaluasi belajar mereka. Dengan harap-harap cemas, mereka pun menanti pembagian buku raport. Bagi siswa tingkat akhir, mereka pun tak kalah cemas menunggu hasil pengumuman kelulusan. Dan setelah penantian panjang, akhirnya mereka pun lulus dan berhak melanjutkan pendidikan ke tingkat berikutnya. Wajah-wajah ceria dan bahagia menghiasi wajah mereka. Pemandangan serupa pun menghiasa wajah adik-adik kelas mereka yang naik kelas ke jenjang yang lebih tinggi. Namun ada pun beberpa diantara mereka yang harus mengulang pelajaran di kelas yang sama tahun depan.

Sejatinya, kita pun tak ubahnya seperti pada pelajar itu. Kita adalah para pelajar pada sekolah kehidupan. Guru-guru kita adalah pengalaman. Pelajaran kita adalah pelajaran hidup. Buku-buku kita adalah panduan hidup (way of life) berupa Al Qur’an, hadist, ijma, qiyas para ulama yang mulia. Segala tingkah laku pembelajaran kita pun dicatat. Dan setelah setahun penuh, buku ‘raport’ cacatan amal kita yang ditulis oleh petugas resmi sekolah kehidupan –malaikat Raqib dan Atid– konon katanya telah habis dan waktunya untuk diganti dengan buku yang baru. Peristiwa ini pun kita kenal dengan malam nishfu sya’ban (pertengahan bulan sya’ban). Dan suatu saat nanti, buku itu akan diserahkan kepada kita sebagai bentuk laporan pertanggung jawaban ‘hasil belajar’ hidup kita di dunia ini. Apakah kita akan ‘naik kelas dan lulus’ menuju surga? Ataukah justru ‘tinggal kelas untuk sementara’ di neraka? Maka layaklah kita jadikan Sya’ban ini sebagai bulan untuk memulai lembaran baru kehidupan kita selama setahun berikutnya. Awal yang baik untuk mengisi buku catatan amal dengan kebaikan pula.

Sya’ban. Bulan kedelapan dalam kalender hijriyah. Sya’ban artinya bercabang. Menjadi lebih filosofis dan bermakna bahwa bulan sya’ban adalah bulan pertumbuhan amal-amal kebaikan yang telah kita tanam pada bulan sebelumnya. Tentu kita masih ingat, jika bulan Rajab (bulan Allah) adalah bulan untuk menanam kebaikan, makan Sya’ban (bulan Rasulullah) merupakan bulan untuk memelihara kebaikan-kebaikan yang telah kita tanam agar tumbuh dengan baik. Ia akan menjelma seperti pohon dengan cabang-cabang kebaikan yang banyak dan menjulang tinggi. Dan ketika tiba masanya nanti, pohon itu akan berbuah dengan lebat dan kita akan memanen-nya di bulan Ramadhan. Wallahu A’lam [i@R]

 

*****

Allahummaa baariklanaa fii Rajaba wa Sya’bana. Wa ballighnaa Ramadhan..

Ya Allah, berkahilah bulan Rajab dan Sya’ban, dan antarkanlah kami

kepada bulan Ramadhan. Amiin Ya Rabbal ‘Aalamiin..

 

Indramayu, 18 Juli 2011

 By Ibnu Atoirahman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s