Kisah Lamaran Tiga Ulama

Dalam sebuah kitab Durratun Nashihin, dikisahkan tiga orang ulama besar datang ke tempat Rabiah Al ‘Adawiyah (seorang sufi wanita) untuk meminangnya. Mereka adalah Hasan Bashri, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Banani.

Alkisah, setelah mereka dipersilahkan masuk dan duduk sebagaimana layaknya orang bertamu, lalu Hasan Bashri berkata, “Wahai Rabiah, nikah merupakan sunnah Rasul. Untuk itu, silahkan anda memilih salah satu dari kami sebagai calon suami”.

Rabi’ah pun menjawab, “Baiklah tuan-tuan yang terhormat. Namun sebelumnya, izinkan aku untuk mengajukan persyaratan yang menjadi beban pikiranku selama ini. Barangsiapa dapat memecahkan masalahku ini, maka ia berhak menikahiku dan menjadi seorang suami.”

“Baiklah. Apa permasalahanmu, Wahai Rabi’ah?”

“Aku punya beberapa pertanyaan yang mengganjal pemikiranku. Sampai sekarang belum juga kutemukan jawabannya.”

“Apakah pertanyaanmu itu?”

Rabi’ah Al Adawiyah pun mengajukan pertanyaan pertamanya kepada Hasan Bashri, “Begini, pada hari kiamat nanti, manusia akan dibagi menjadi dua golongan, pertama masuk ke dalam surga dan yang lainnya masuk ke dalam neraka. Menurut Tuan, termasuk golongan manakah diriku pada saat itu?”.

Hasan Bashri menjawab, “Maaf, tentang masalah itu, aku tidak tahu pasti”.

Lalu, Rabi’ah mengajukan pertanyaan kedua, “Ketika dalam kandungan, ditentukan padanya 4 hal diantara celaka dan bahagia. Menurut Tuan, termasuk golongan manakah diriku ini?”.

“Maaf permasalahan itu aku tidak tahu pasti.” Hasan Bashri kembali menjawab dengan gelengan kepala.

Rabi’ah pun meneruskannya dengan pertanyaan ketiga, “Menurut Tuan, termasuk golongan manakah aku ketika diseru “Jangan engkau gentar dan bersedih hati” ataukah “Tiada rasa gembira bagimu”?”.

Lagi-lagi Hasan Bashri tidak tahu.

Rabiah kembali bertanya, “Menurut tuan, wajahku kelak di hari kiamat putih berseri atau hitam legam?”.

Hasan Bashri menjawab : “Maaf, aku tidak tahu pasti tentang masalah itu”.

Rabiah mengajukan pertanyaan terakhirnya, “Termasuk golongan manakah diriku di saat manusia dipanggil, “Fulan bin fulan adalah orang bahagia  atau Fulan bin Fulan termasuk orang celaka ?”

“Maaf aku sungguh tidak tahu. Hanya Allah yang mengetahuinya.”

“Untuk itulah, aku begitu takut sampai-sampai tidak sempat memikirkan perkara dunia.” kata Rabi’ah Al Adawiyah.

Akhirnya ketiga ulama besar itu pun menangis mendengar penjelasan Rabi’ah Al Adawiyah. Mereka sungguh malu kepada Allah dan mohon pamit dari rumah Rabi’ah dengan wajah sedih penuh penyesalan.

One comment on “Kisah Lamaran Tiga Ulama

  1. saya masih belum paham tentang niat para ulama yang memutuskan untuk yidak menikah padahal bukankan Allah SWT menegaskan d dalam alquran bahwa qt tdak boleh melakukan rahbaniyyah

    >>>pH: Entahlah.. ada rahasia dibalik rahasia…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s