Abu Nawas (Gila) Jadi Hakim

Sedih rasanya mendengar berita di televisi. Peradilan Indonesia semakin hari semakin bobrok saja karena diisi oleh hakim-hakim  yang tidak amanah. Demi kepentingan sesaat, mereka rela menggadaikan harga diri demi segepok uang suap (riswah) untuk membebaskan pihak-pihak tertentu dari jerat hukum. Lembaga yang diharapkan menjadi gerbang akhir menyuarakan keadilan dan kebenaran itu, nyatanya tak lebih menjadi ajang permainan kotor oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Tragis. Tapi itulah fakta yang terjadi di negeri kita.

Adabaiknya kita bercermin pada sebuah kisah Abu Nawas. Seorang yang dianggap memiliki kecerdasaan luar biasa di atas rata-rata, sampai tingkahnya dianggap aneh bin lucu bahkan gila. Namun kita harus mengakui, dibalik kejenakaannya, Abu Nawas ternyata mengajarkan kearifan yang tinggi kepada kita. Ia mengajarkan bahwa hidup tak ubahnya hanya sebuah lelucon yang kadang membuat kita tertawa. Menertawakan tingkah kita sendiri. Kisahnya sendiri saya dapatkan dari buku cerita anak-anak  milik adik saya. Dan ini adalah adaptasinya.

Seperti pada suatu hari yang tak biasa. Entah bagaimana bermula, tiba-tiba Abu Nawas menjadi tidak waras. Tingkahnya aneh, suka ngomong sendiri, berteriak-teriak kadang tertawa-tawa tanpa sebab yang jelas. Pendek kata, ia gila. Seperti hari itu, anak-anak menyorakinya dengan kata-kata, “Abu Nawas gila.. Abu Nawas gila..”. Abu Nawas tertawa dan ikut menari-nari gembira. Aneh, bukan?

Padahal, tahukah engkau kawan, seorang utusan dari kota ingin segera menemuinya.  Ada urusan penting yang ingin ia sampaikan kepada Abu Nawas.

“Dimanakah saya bisa menemui Abu Nawas?” katanya.

“Di kuburan.”

“Kuburan siapa?”

“Dekat kuburan ayahnya?”

“Sedang apa dia? Apakah dia sedang berdoa?”

“Entahlah. Yang jelas, anak-anak banyak yang menyorakinya dan dia telah hilang akal!”

“Benarkah? “

Kasihan Abu Nawas. Gara-gara ayahnya meninggal, dia berubah seperti itu. Kebetulan ayahnya adalah seorang hakim di lingkungan pemerintah. Orang-orang kota itu datang selain untuk berta’ziyah, mereka juga ingin meminta Abu Nawas menggantikan tugas ayahnya sebagai hakim. Tapi keadaannya telah jauh berbeda, Abu Nawas telah gila.

Beberapa hari kemudian, keadaan Abu Nawas tidak berubah. Masih bertingkah aneh, menangis dan tertawa sendiri.

“Wuah, bagaimana ini? Jika dibiarkan seperti ini, kita tidak akan mengangkatnya sebagai hakim?”

“Benar. Kita harus mencari orang lain untuk diangkat menjadi hakim!”

“ Tidak mungkin kita mengangkat Abu Nawas yang gila sebagai hakim!”

Akhirnya, hakim baru pun dipilih. Dan itu bukan Abu Nawas. Setelah beberapa lama, akhirnya Abu Nawas kembali normal. Ternyata, ia hanya pura-pura gila. Pertanyaan menariknya, kenapa ia tiba-tiba bertingkah seperti orang gila?

Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal ini. “Kenapa engkau tidak mau menjadi hakim menggantikan ayahmu?”

Abu Nawas menjawab, “Menjadi hakim bukanlah perkara mudah. Aku tahu, ayahku adalah seorang hakim yang baik. Ia selalu memutuskan perkara dengan adil. Tetapi karena pernah berbuat sebuah kesalahan yang tidak disengaja, ketika meninggal dunia, telinganya membusuk. Ia berwasiat bahwa menjadi hakim memerlukan tanggungjawab yang besar. Bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Maka semenjak itu, aku sangat tidak menginginkan menjadi hakim” katanya bercerita.

Masya Allah. Ketika semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kedudukan hakim yang dianggap terhormat dan dilimpahi materi yang banyak, Abu Nawas justru  menolaknya dengan cara yang tak biasa. Ia sadar sepenuh hati, bahwa menjadi hakim adalah sebuah jabatan yang menuntutnya tanggungjawab lebih dari siapapun. Tangungjawab pada diri sendiri, orang lain dan yang lebih utama kepada Allah Swt. Maka dari kisah ini pun, kita bercermin bahwa menjadi hakim tidak semudah yang kita kira.  [i@R]

“Renungan untuk para Hakim”

Indramayu, 25 Juli 2011

By Ibnu Atoirahman

 

Iklan

One comment on “Abu Nawas (Gila) Jadi Hakim

  1. Ping-balik: Tragedi Setengah Biji Buah Apel « Bani Madrowi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s