Mari Memanen Buah (Kebaikan)

Masih ingatkah, benih (kebaikan) yang kita tanam di kebun Rajab beberapa waktu yang lalu? Benih itu pun tumbuh subur gara-gara kita pelihara dengan baik. Kita sirami sehari dua kali dengan air yang cukup. Kita pun memberinya pupuk sesuai dosis. Kita siangi rumput-rumput dan gulma pengganggu. Kita semprot dengan pestisida ketika adahamadan penyakit. Dan perlahan, benih itu tumbuh dari hari ke hari dan akhirnya menjelma sebuah pohon rindang yang kokoh. Pohon (kebaikan) Sya’ban yang bercabang-cabang dan berbuah lebat. Dan sekarang, tibalah masanya untuk memanen buah-buah kebaikan itu di bulan Ramadhan, bulan keberkahan yang teristimewa. Itulah perumpamaan ketiga bulan hijriyah tersebut jika kita analogikan dengan dunia pertanian.

Jika bulan Rajab adalah bulan (Allah) untuk menanam benih-benih (kebaikan). bulan Sya’ban adalah bulan (Rasulullah) untuk memelihara agar ia tumbuh menjadi pohon yang bercabang-cabang dengan buah yang lebat. Dan akhirnya, Ramadhan adalah bulan (umat Muslim) untuk memetik hasilnya berupa pahala yang berlipat ganda setelah kita menanamnya.

Sebenarnya, secara harfiyah Ramadhan berarti ‘terbakar’. Hal ini merujuk pada bulan ke-sembilan penanggalan hijriyah yang ketika itu wilayah Jazirah Arab mengalami musim panas. Namun belakangan, kata ‘terbakar’ ini menjadi lebih filosofis maknanya.  Ramadhan adalah bulan penempaan diri seorang muslim di ‘kawah candradimuka’ dengan berbagai macam ibadah yang dibalas Allah dengan berlipat ganda. Di sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, sepuluh hari pertengahan adalah maghfirah (ampunan) dan sepuluh hari terakhir adalah ‘itkum minnanaar (pembebasan dari api neraka).  Hingga akhirnya, Ramadhan berarti bulan pembakaran dosa-dosa kita dan menggantinya dengan fitrah kesucian.

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana umat Muslim sedunia diwajibkan untuk berpuasa, sebagaimana diperintah Allah dalam suratAl Baqoroh : 183. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”.  Tidak hanya berpuasa di siang hari, umat muslim pun memenuhi musholla/masjid di malam hari untuk

shalat tarawih (dan witir) setelah shalat isya. Masih ditambah dengan tadarus qur’an, mendengarkan ceramah (subuh) dan lain sebagainya. Di bulan ini, konon katanya setiap desah nafas menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, dan semua ibadah dilipatgandakan pahalanya sampai 700 kali lipat. Maka tidaklah berlebihan jikan bulan ini adalah bulan untuk memanen kebaikan sebanyak-banyaknya sebagai bekal persiapan untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya.

Tidak hanya itu, Ramadhan pun menjanjikan sebuah doorprize berupa Lailatul Qadr yang dipercaya sebagian besar umat muslim ada dalam sepuluh hari terakhir di bulan ini. Lailatul Qadr adalah malam berharga yang lebih baik (nilainya) dari (ibadah) seribu bulan. Subhanallah. Maka ketika selesai Ramadhan, harapan kita akan menjadi pribadi muslim baru yang bersih baik secara lahir maupun bathin dan layak mendapat predikat muttaqin (orang yang bertaqwa) dengan ucapan ‘taqoballaahu minna waminkum shiyaamana wa shiyaamakum, taqobbal yaa kariim”. Semoga Ramadhan kali ini menjadi jalan keberkahan hidup kita dalam rangka meraih keridloan Ilahi. Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin. [i@R]

In the rama you, 010111

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s