Syndrome Pasca-Lebaran

Entah mengapa, ekspektasi saya terhadap lebaran beberapa tahun belakang ini jauh berbeda 180 derajat ketika saya kecil dulu. Menjelang malam lebaran, entah mengapa suasana hati saya mendadak melow. Apalagi ketika suara takbir mengalun selepas maghrib di mushola/masjid kampung saya. Tiba-tiba saja, ada yang basah di pelupuk mata saya. Ah, rasanya saya baru saja kehilangan sesuatu…

Dulu, sewaktu masih kecil, saya begitu berharap lebaran segera datang. Antusiasme menyambut lebaran pun menyeruak. Apalagi ketika ibu saya siap-siap membuat cangkang ketupat, menggerus bumbu, membuat kue del-del. Rasanya lebaran semakin dekat dan buncah hati kecil ini diliputi kesenangan yang menggetar-getar.

Malam lebaran kami isi dengan takbir keliling kecil-kecilan. Dengan beberapa orang (adik, sepupu dan teman-teman tetangga), kita berkeliling membawa obor bambu yang sengaja kami persiapkan siang harinya. Sambil bertakbir, kita berkeliling sekitaran rumah. Ketika bertemu dengan teman, kita bersalaman saling memaafkan. Kadang diselingi dengan menyalakan kembang api batangan. Saking semangatnya, baju lebaran sepupu saya sampe terpercik api dan akhirnya bolong-bolong. Hehe, kasian ^^

Di lain kesempatan, setiap menjelang malam lebaran, saya pernah buat lampion. Rencananya pengen bikin lampion mirip orang Tionghoa, eh yang jadi malah lampu gantung yang tidak jelas bentuknya. Hehe. Saya buat pake potongan kayu, dibalut kertas minyak, diisi dengan lilin, kemudian menggantungnya di pohon mangga depan rumah. Uiih, cakeep…

Esok harinya, setelah shalat ied di masjid, kita sibuk memamerkan baju-baju lebaran aneka warna dan gaya. Ada juga teman kecil saya yg memamerkan sepatu kelap kelip yang bisa nyala ketika dinjak. Bener-bener bikin ngiri saja. 🙂
Tak lupa kami siapkan dompet-dompet keren untuk menampung duit THR dari saudara dan tetangga. Hasilnya cukup bikin kita cengar cengir kesenangan. Kapan lagi, anak kecil punya duit sebanyak itu. Huekeke..

Tapi itu dulu. Sekarang, ritual malam lebaran biasanya saya isi dengan bantu ortu, menerima tamu, membereskan ruangan (sebagian besar bersih-bersih rumah dilakukan siang hari sebelumnya), kadang takbiran di musholla bersama teman-teman. Saya tidak pernah sempat seperti adik saya bertakbiran keliling naik mobil bak terbuka sambil bawa bedug. Padahal pengen bangeet, tapi saya tahu diri. Ortu butuh bantuan dengan seabrek pekerjaan. Dan saat itulah sisi-sisi melow saya muncul seketika. Memang seneng ketika lebaran tiba. Rame di sana sini. Suara takbir bersahut-sahutan bahkan ada yg sampai begadang pula. Jalanan sibuk dengan lalu lalang orang sambil nganter zakat fitrah, takbir keliling, silaturahmi, del-del. Rame banget.

Tapi cepat lambat, saya sadar. Ada yg mulai menjauh meninggalkan kita. Esok tak lagi sama. Seminggu kemudian suasananya pasti akan jauh berbeda. Saya seperti terkena syndrom pasca-lebaran. Makanya saya seringkali bercanda, “Lebaran itu gak enak. Enaknya cuma sehari dua hari, habis itu plasss… hilang.”
Musholla yg tiap malam Ramadhan rame, kini kembali sepi. Jalanan yg rame menjelang berbuka puasa, kini lengang seperti biasa. Gak ada yang ditunggu ketika puasa (hehe, nunggu beduk magrib tiba), gak ada tarawih, gak ada shalat malam mengejar lailatul qadr, gak ada acara islami di tipi, gak ada acara bangunin sahur, dan yang mudik pun (mungkin) sudah balik. Ah, tiba-tiba saja saya ingin menangis.

Ya, setiap habis Ramadhan, entah mengapa saya rindu lagi Ramadhan. Saya kangen suasananya. Sungguh! Satu ekspektasi terbesar saya ketika lebaran adalah semoga kita kembali fitri dan beruntung (minal ‘aidin wal faizin) memperoleh keberkahan Ramadhan untuk sebelas bulan mendatang. Semoga masih cukup usia kita bertemu lagi dengannya di tahun depan. Amiin…

in the rama you, 290811
Sahabats : MOHON MAAF LAHIR BATHIN yaaa ^^b

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s