Wanita Berkatup Jantung Platina

Secara pribadi, aku memang tidak kenal dekat dengannya. Aku pertama kali mengenalnya lewat sebuah cerita. Namanya mulai ku kenal ketika membaca serial ‘La Tansa Café’ di majalah annida. Bukunya yang pertama ku baca adalah kumpulan cerpen ‘Biarkan Aku Memulai’. Lalu di hari yang berbeda, aku juga membaca ‘Bayangan Bidadari’.

Ketika zaman facebook melanda (sekarang pun masih), kutemukan namanya di halaman rumahku. Ingin rasanya aku mengenal dan menjalin pertemanan dengannya. Dan tentu saja, aku sangat senang bisa mengenal penulis hebat seperti dirinya. Bagiku, sosoknya adalah pribadi yang hangat dan rendah hati. Ketika akunnya hampir penuh karena begitu banyak orang yang ingin berteman dengannya, aku sempat bercanda,

“Wuah, semakin banyak nih, fans-nya, mbak?”

“Bukan fans, tapi friends (teman)” jawabnya rendah hati.

Satu hal yang masih kuingat darinya, hampir setiap kali ada ‘teman facebook’nya yang ultah, ia berusaha menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat, memberikan seuntai doa dan nasihat yang indah. Aku membaca sebuah ketulusan. Sesekali ia berbagi curhat dan pendapat sambil membalas komentar. Ia tetap saja hangat dan terasa akrab.

Dan, tanpa diduga, tiba-tiba kabar itu datang. Hampir saja aku pecah tak percaya. Benarkaah?? Mengapaa?? Ah, kematian kadang datang tak kenal waktu. Dia kembali ke pangkuan Ilahi dengan usia yang relatif muda, 35 tahun. Konon katanya ia punya penyakit jantung bawaan. Katup jantungnya mengalami kerusakan sehingga harus dioperasi dan diganti dengan katup jantung mekanik dari platina. Masya Allah…

Aku juga baru tahu, ternyata dia seorang single parent (tanpa suami) yang terus berjuang demi anak-anak tercinta meski didera penyakit yang berat. Satu bukti bahwa ia adalah seorang wanita kuat yang hebat.

Kepergiannya meninggalkan duka yang teramat dalam terutama bagi buah hatinya yang masih sangat belia. Buku ‘Hingga Jantungku Berhenti Berdetak’ (yang menceritakan kisah hidupnya), menjadi buku terakhir yang ditulisnya. Aku sendiri memang belum membacanya. Tapi sangat ingin, suatu saat nanti.

Dan hari ini (051011), aku mampir ke halaman rumahnya tepat di hari miladnya yang ke 36 tahun. Sekedar memberikan segenggam doa. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu ‘anha. Ternyata banyak juga yang memberi selamat harlah. Bahkan, ada juga yang belum tahu kalo dirinya telah tiada. Kali ini, tanpa balasan komentar apapun darinya. Kadang masih tak percaya, pemilik akun facebook yang kubaca ini sudah tiada. Dan tiba-tiba saja aku digelayuti rasa yang entah apa. Ada yang basah di pelupuk mata.

Mbak Nurul F. Huda. Lihatlah, Mbak. Begitu banyak orang yang mencintai dan menyayangimu meski dengan cara yang berbeda. Ini hanya satu keajaiban bahwa menulis telah mengekalkanmu dari ‘kematian’. Dan aku yakin, di alam sana kau sedang tersenyum bahagia. Insya Allah…

*In Memoriam Nurul F. Huda, penulis.

Indramayu, 5 Oktober 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s