Selia, Imanku Tertelungkup di Kakinya

Suatu hari, aku mendapat paket kiriman buku dari seorang sahabat (Shabrina WS) untuk Taman Bacaan Pondok Hati (Indramayu). Tak tanggung-tanggung, paket buku itu dikirim langsung oleh penulisnya sendiri dari pulau Kalimantan nun jauh di sana. Tak bisa dibayangkan betapa takjubnya aku mendapati dua buku ini telah berlayar lewati lembah menyeberang lautan hingga akhirnya sampai di tempatku.  Lengkap dengan bonus tanda tangan penulisnya: Mahmud Jauhari Ali. Hahay. Di tanganku,  kini tergenggam dua buku tak terlalu tebal dengan genre berbeda. Selia dan Imanku Tertelangkup di Kakinya.

Sebelum menyentuh Selia, kuputuskan untuk membaca buku yang kedua. Buku fiksi yang menjadikan salah satu judul cerpennya sebagai judul covernya: Imanku, Tertelungkup di Kakinya. Kisahnya sendiri tentang perjuangan seorang kakak bernama Li (aku menduganya ia bernama Ali) untuk bisa menikahkan adiknya, Syaiful dengan seorang gadis bernama Mia. Namun upaya itu terganjal masalah biaya. Pihak mempelai wanita, Pak Hamid namanya, menginginkan uang seserahan yang jumlahnya sungguh luar biasa. Dua puluh lima juta. Sebuah angka fantastis untuk mengukur arti sebuah harga diri dan gengsi. Digambarkan,  betapa murungnya Syaiful menghadapi kenyataan yang ada. Uangnya hanya tujuh juta. Sebenarnya lebih dari cukup jika hanya untuk biaya pernikahan saja. Tetapi Pak Hamid tetap ngotot meminta lebih. Nasihat Ustadz Zainal yang datang bersama Li tidak mendapat respon yang positif. Sebagai kakak, Li dan istrinya tentu saja sangat bersedih hati. Pengorbanan besar pun siap mereka lakukan demi sang adik tercinta. Motor Li dan perhiasaan istrinya terpaksa dijual untuk memenuhi keinginan pihak mempelai wanita. Li hanya ingin, Syaiful tersenyum kembali meskipun imannya kalah oleh tradisi. Ini hanya satu kisah yang ada dalam buku kumpulan cerpen ini. Bersamanya, ada sepuluh kisah lain yang layak untuk dibaca.

Lalu, aku pun berkenalan dengan Selia. Sosok imajiner yang dicipta Mahmud Jauhari Ali, penyair muda kelahiran Banjarmasin. Selia adalah puisi hidup yang ditulis penulisnya dalam suasana penuh kegamangan, kemurungan dan ketidakpastian. Isbedy Setiawan (penyair) menyebut jika Ebiet G. Ade memiliki Camelia, maka Mahmud Jauhari Ali memiliki Selia. Ia lahir dengan diksi yang indah dan warna lokalitas Kalimantan yang khas. Senada dengan Isbedy, Hanna Fransisca (penyair) menyebut jika Selia serupa Sri Ayati dalam puisi Chairil Anwar yang telah menjelma keindahan pedih yang pantas untuk direnungkan. Shabrina Ws bahkan menyebut bahwa puisi-puisi Mahmud dalam Selia ini tampak manis ketika diucapkan, tetapi terasa getir ketika ditelan. Dan aku harus sepakat dengannya. Setiap bait dalam puisinya terlarik sebaris kepahitan yang indah untuk direnungkan (sekaligus dinikmati). Bersamanya, ada 68 buah puisi yang bisa kita baca dalam antologi ini.

Bagiku, Selia telah memberiku warna tersendiri bagaimana belajar menulis puisi yang indah. Semasa kuliah dulu, aku pernah mencoba menulis puisi. Namun aku merasa malu, karena bahasa yang kugunakan terlalu verbal dengan metafora yang kurang memadai. Hingga akhirnya dengan tidak pede, aku harus puas menyebut puisi gagalku sebagai “serpihan-serpihan kata” yang meluncur dari hati, bukan puisi. Maka ketika Selia datang, aku tiba-tiba saja mendapat seorang kawan yang mengajariku bagaimana menulis puisi yang baik (dan indah) meskipun objeknya hidup dalam suasana pahit dan getir. Puisi tak lagi melulu berisi warna pelangi dengan kata yang berbunga-bunga di sana-sini. Getir, marah, sedih, gamang pun ternyata tampak indah ketika dituangkan dalam bentuk puisi seperti yang dilakukan Mahmud Jauhari Ali. So, buat teman-teman yang ingin belajar berpuisi, kiranya Selia cocok untuk tempat berbagi.

Indramayu (pondokhati), 1 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s