Siapa Guru Kehidupanmu?

Seorang guru sejatinya adalah memberi, tak harap kembali. Seperti seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Yang rela menyerahkan hidupnya bukan untuk kebahagiaannya sendiri, tetapi juga untuk kebahagiaan orang lain. Namun adakah sosok seperti itu? Ada. Bagiku, guru kehidupanku adalah Emak. Lalu, memoriku terdampar pada suatu hari, menjelang Idul Fitri.

Sekitar jam 1 dini hari, ketika sebagian orang terlelap dalam mimpi, Emak dan Bapak justru mengawalinya dengan pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan sayur mayur dan barang dagangan lain. Bagiku, Emak dan Bapak adalah orang tua hebat. Tak kenal lelah bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi kami, anak-anaknya. Tak pernah kudengar keluhan dari mulut mereka.

Aku tahu, Emak sangat lelah. Tapi ia seperti tak peduli. Sepertinya Emak rela menderita demi kami. Ya, setidaknya sampai saat ini, ketika batuknya terdengar berkali-kali. Dan tiba-tiba saja langit runtuh menimpaku. Gelap.

Itulah sepenggal kisah yang kutulis dengan judul “Satu Rindu untuk Emak” (Ibnu Atoirahman). Sebenarnya itu adalah kisah nyata seorang teman yang kuceritakan kembali. Alhamdulillah, kisah itu kini bergabung dengan kisah-kisah lain dalam sebuah antologi berjudul “Para Guru Kehidupan” yang diterbitkan Geraibuku.com. Sungguh beragam kisah-kisah di dalamnya. Ada kisah tentang Pak Sahir dan sapunya (Nadia Sarah), Pak Mo dan semangatnya (Intan HS), demonstran tak bernama (Naminist), catatan seorang relawan (Epri Tsaqib), Asma Nadia dan karyanya (Futicha Turisqoh). Ada kisah tentang nenek (Ina Inong), ayah (Achi TM), ibu (Hilal Ahmad), buah hati (Ratna Dks) dan masih banyak lagi. Tercatat, sekitar 47 kisah menakjubkan yang bisa kita baca, hayati, renungkan dan kita ambil pelajaran.

Orang-orang sederhana seperti tukang sapu sekolah, ayah bunda, bapak ibu guru di sekolah, sahabat karib, para penulis, handai taulan, buah hati sampai momen bersejarah, sejatinya adalah guru-guru kehidupan yang mengajarkan kita banyak hal. Dari mereka jejak-jejak itu terekam jelas, membekas dalam torehan sejarah bernama kehidupan. Mereka menjelma kekuatan dan semangat yang mendorong kita untuk berbuat lebih baik. Buku ini kiranya menjadi upaya secara sadar untuk merekam jejak mereka melalui kisah-kisah sederhana tetapi sarat makna. Mereka ada, terasa dekat, dekat sekali. Bagiku, membaca kisah teman-teman lain dalam buku ini sangat menakjubkan. Ya, aku belajar banyak dari kisah-kisah mereka. Belajar dari seorang guru bernama kehidupan.

In the rama you (pondokhati), 10 November 2011 *hari pahlawan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s