Putri Kejawen: Mutiara Putih dalam Hitam Jelaga

Namanya Dewi. Dewi Sakrendha, anak perempuan yang lahir terbungkus selaput. Ibunya bernama Ratmi, seorang wanita berkulit putih dan cukup cantik, berasal dari Jogja keturunan priyayi. Ayahnya bernama Sukirman. Warna kulitnya yang legam dan kebiasaannya memakai penadon hitam membuatnya sering dipanggil Ki Ireng. Lelaki paruh baya itu asli suku Tengger, suku terpencil di lereng gunung Bromo. Berbeda dengan ibunya yang lembut dan keturunan bangsawan, Ki Ireng berwatak keras dan berprofesi sebagai dukun sakti, pengabdi ilmu hitam. Dari sinilah aku tahu, Dewi adalah putri Kejawen, putri yang dilahirkan dari sebuah tradisi mistik masyarakat Jawa yang kental.

Namun, Allah tidak ingin membiarkan Dewi lebur menjadi hitam meski dalam darahnya mengalir warisan kehitaman ayahnya. Ia sungguh berbeda. Ia menjelma mutiara putih dalam hitam jelaga. Awalnya, Dewi memang terbiasa dengan serentetan upacara kebatinan yang biasa dilakukan ayahnya. Tetapi ketika ia bersekolah di kota, wawasan keislamannya pun bertambah. Jiwanya mulai berontak. Ia ingin mendobrak tradisi masyarakatnya yang kental pada ritual mistik, ilmu gaib, tahayul dan khurafat. Ia ingin nilai-nilai Islam teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Pergolakan batin pun tercipta. Terlebih, ikatan cinta yang kuat antara ayah dan anak ini membuat tugas ini kian sulit saja. Dewi tak ingin menyakiti hati ayah yang sangat dicintainya. Maka, tak putus doa dari bibirnya agar ayahnya kembali pada jalan kebenaran semula.

Sampai suatu saat, ayahnya sakit parah. Muntah darah. Dewi tercekik panik. Wajahnya basah dengan air mata. Tak disangka, sang ayah tengah berjuang sekuat tenaga, antara hidup dan mati. Ia rela menjadi perisai bagi Dewi agar anak gadisnya tidak menjadi persembahan agung untuk Kanjeng Guru, pemimpin jin di wilayah pegunungan Kidul. Dewi terpukul. Dulu, ayahnya pernah berjanji untuk menyerahkan anak gadisnya ketika dewasa sebagai mahar ilmu kesaktiannya. Namun janji telah diikrarkan. Maka, hari-hari berikutnya adalah pergulatan panjang Dewi dan keluarganya untuk berjuang melawan makhluk tak kasat mata lewat doa. Dewi meruqyah ayahnya, mengobatinya dengan habbatussauda yang diajarkan Rasulullah Saw. Syukurlah, ayah dan keluarganya pun terselamatkan berkat rahmat-Nya.

Tak hanya itu, dalam perjalanannya, Dewi pun berjuang untuk kembali menautkan tali silaturahmi antara keluarga ayah dan ibunya yang sempat terputus akibat pernikahan yang tak direstui. Keluarga ibunya yang priyayi sangat tidak setuju ibu menikah dengan ayah yang dianggapnya berbeda kasta. Slide-slide kisah masa lalu pun membayang dalam alur mundur yang teratur. Hingga akhirnya, semua berakhir indah pada waktunya. Keluarga ayahnya di Ranupane pun bisa berdamai dengan keluarga ibunya di Jogja.

Inilah sekelumit kisah dari novel keren karya Novia Syahidah berjudul Putri Kejawen. Novel ini pernah dimuat secara bersambung di majalah Annida, sebelum akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku. Inilah novel pertama Novia yang langsung menarik hatiku. Setting masyarakat Jawa di lereng gunung Bromo membuat novel ini terasa nyata. Terlebih lagi ada serangkaian adat dan tradisi Jawa yang menjadi bumbu penyedap novel ini. Aku pun menemukan pengetahuan baru tentang wayang. Dari novel ini, aku tahu ternyata tokoh punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Gareng berasal dari bahasa Arab: Syimar Khairan Fatruki Bagho (Sebarkan Kebaikan, Jauhi Kejelekan). Aku juga belajar bagaimana cara me-ruqyah ketika seseorang terkena gangguan jin dan santet dalam novel ini. Semuanya disajikan dengan alur cerita yang mengalir lancar. Lebih hebat lagi, Novia Syahidah ternyata bukan berasal dari Jawa, tetapi asli Sumatera. Dengan kepiawaiannya dan riset data yang baik, novel ini tampak hidup dalam nuansa Jawa yang khas. Menakjubkan! Layak untuk dibaca.

Indramayu (pondokhati), 30 November 2011

Iklan

2 comments on “Putri Kejawen: Mutiara Putih dalam Hitam Jelaga

  1. Baru baca ini, makasih ya utk tulisannya 🙂

    >>>pH: Wuaaah, dapet kunjungan dari penulis aslinya! Makasih kembali sudah mampir ke pondok hati, mbak Via 🙂

  2. kejawen masih lestari sampai sekarang di bumi jawa. memang agak susah mengubah pandangan orang2 terutama orang yang udah sepuh.

    >>>pH: iya, Mbak Ila. Makasiih ya sudah berkunjung 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s