Siapakah yang Hajinya diterima Tahun ini?

Bulan Dzulhijjah mungkin sudah lewat, berganti dengan Muharram yang mulia. Tetapi antusiasme warga muslim Indonesia sepertinya tak surut begitu saja untuk bisa menggenapkan rukun Islam kelima. Tengok saja, di Indramayu misalnya, di penghujung tahun 2011 ini, tercatat sudah lebih dari 700 orang mendaftarkan diri ke Bank Penerima Setoran Haji. Itu juga untuk pendaftaran tahun 2018. Subhanallah, tujuh tahun menunggu untuk bisa daftar haji. Dan setiap hari, ada saja orang yang mendaftar. Kondisi ini dipermudah dengan adanya dana talangan dari beberapa bank sebagai keringanan untuk mendapatkan porsi haji. Saya jadi tersenyum sambil bertanya-tanya, “Mungkinkah taraf hidup orang Indonesia sudah meningkat?”

Secara bertahap, jamaah haji Indonesia sebagian besar telah dipulangkan ke tanah air. Jamaah haji Kab. Indramayu yang tergabung dalam empat kloter (50, 58, 66 dan 75) tahun 2011 ini pun demikian. Berduyun-duyun keluarga dan handai tolan menjemput mereka dengan kerinduan tak terkira. Rasa sukacita tergambar jelas dari wajah mereka. “Ahlan Wa Sahlan, Ya Hujjaj..” Semoga kembali membawa predikat haji mabrur yang balasannya tak lain adalah surga. Aamiin..

Tiba-tiba saja, saya teringat sebuah kisah menakjubkan yang diceritakan Abu Fajar Al Qalami dalam sebuah buku berjudul ‘Koleksi Cerita Penggugah Kalbu”. Dan aku ceritakan kembali kisah ini padamu, sahabat. Untuk kita renungkan bersama-sama pada akhirnya.

Ada seseorang bernama Abdullah bin Mubarak yang berangkat haji. Setelah menunaikan shalat malam, ia pun merebahkan tubuhnya di serambi Masjidil Haram. Ia pun tertidur. Tiba-tiba ia bermimpi seakan-akan ada dua malaikat turun dari langit sedang berbincang. Abdullah hanya mendengarkan pembicaraan mereka.

“Tahun ini berapakah jumlah orang yang menunaikan haji?”

“Enam ratus ribu,” jawab temannya.

“Berapa yang diterima?”

“Hanya satu”

“Appa? Hanya satu. Bagaimana dengan yang lain?”

“Semuanya ditolak.  Kecuali satu orang. Dia adalah lelaki tukang sol sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq”.

Tiba-tiba Abdullah bin Mubarak terbangun dari tidurnya. Hatinya menjerit tak tenang. Dari enam ratus ribu jamaah haji, hanya satu orang yang diterima hajinya. Dan itu bukan dirinya, tetapi seseorang yang bernama Muwaffaq dari Damsyik. Maka mengalirlah rasa penasarannya. Ia pun segera meninggalkan Mekkah untuk pergi ke Damsyik, demi mencari seseorang yang dimaksudkan dalam mimpinya.

Setelah perjuangan melelahkan, akhirnya bertemulah ia dengan orang yang dimaksud. Mengalirlah perbincangan di antara keduanya.

“Benarkah anda Muwaffaq yang bekerja sebagai tukang sol sepatu?”

“Iya, benar.”

“Adakah seseorang yang bernama Muwaffaq selain anda di tempat ini?”

“Tidak. Hanya akulah satu-satunya orang yang bernama Muwaffaq, tukang sol sepatu” katanya.

“Saya hanya ingin mengucapkan selamat karena haji anda diterima oleh Allah tahun ini”

“Tetapi tahun ini saya tidak berangkat haji.”

“Appa? Benarkah?”

Muwaffaq mengangguk. “Aku memang berencana untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. Tetapi tidak jadi. Aku menundanya sampai tahun depan, insya Allah“

“Mengapa?”

“Istriku hamil tua. Lagi pula, uang simpanan untuk ongkos haji-ku pun sudah habis. Aku harus menabung kembali.”

“Kau gunakan untuk apa uang itu?” tanya Abdullah.

Muwaffaq pun mulai bercerita, “Tadi sudah kuceritakan, istriku hamil tua. Suatu hari, dia mencium aroma bau masakan daging. Setelah kuselidiki, ternyata asap itu berasal dari tetanggaku. Aku heran, dia seorang janda miskin yang menghidupi beberapa anak yatim tetapi mampu memasak daging dengan aroma yang lezat. Sampai-sampai istriku menyuruhku memintanya ke sana”

Abdullah sepertinya tak sabar mendengar kelanjutan cerita Muwaffaq.

Muwaffaq pun melanjutkan, “Aku pun mendatangi rumah tetanggaku untuk meminta sepotong daging masakan itu. Tetapi janda miskin itu menolaknya. Dia bilang bahwa daging itu halal bagi keluarganya, tetapi tak halal bagi orang seperti diriku. Apa sebab? Karena daging yang ia masak sebenarnya adalah bangkai kuda yang baru saja mati. Anak-anaknya yang yatim menangis kelaparan.  Ia pun memasak daging itu karena terpaksa. “

“Hatiku terasa hancur berkeping-keping mendengar cerita pilu janda miskin itu. Maka aku pun pulang dan menceritakan kisah ini pada istriku. Istriku pun menangis. Betapa berdosanya kami, karena tetangga kelaparan kami tak tahu. Akhirnya kuputuskan untuk menyerahkan semua uang simpananku untuk berhaji kepada janda miskin itu.” Muwaffaq pun mengakhiri ceritanya.

Abdullah bin Mubarak menghela nafas. Ia lalu berkata, “Ketika aku tidur di serambi masjidil Haram, aku bermimpi mendengar pembicaraan kedua malaikat bahwa dari enam ratus ribu jamaah haji hanya dirimulah yang hajinya diterima”

“Benarkah? Jika hal ini benar, berarti Allah telah mencatat amal sedekahku. Sungguh, aku berhaji hanya di depan pintu” kata Muwaffaq.

Subhanallah. Kisah ini telah mengajarkan kita bahwa esensi menunaikan ibadah haji bukanlah urusan gengsi dan harga diri. Lebih dari itu, haji adalah ibadah murni untuk mengharap keridloan Ilahi. Tak bijak rasanya kita bermewah-mewah ketika berhaji sementara saudara kita, tetangga kita hidup dalam keadaan lapar dan dahaga. Saya jadi bergidik ngeri membayangkan’ramalan’ Nabi Saw dalam sebuah hadist, bahwa suatu saat nanti ibadah haji akan kehilangan makna dan esensinya.

“Akan datang suatu masa nanti, di mana orang-orang kaya yang berhaji hanya untuk berpiknik, para saudagar (kelas menengah) berhaji untuk berdagang, para qurra (alim ulama) berhaji untuk riya’ (pamer) dan sum’ah (ingin didengar), dan orang-orang miskin berhaji untuk meminta-minta” (HR. Ad-Dailamy dan Ibnu Al Jauzi).

Astaghfirullahal ‘Adhiim. Sungguh, saya belajar banyak dari kisah ini. Bagaimana dengan anda? Wallahu A’lam Bishshawab.

Indramayu (pondokhati), 8 Desember 2011

Iklan

One comment on “Siapakah yang Hajinya diterima Tahun ini?

  1. Trima kasih untuk pencerahannya,
    mdh2an kita tak kehilangan esensi/hikmah dr stiap kejadian yg menimpa kita atw dr stiap tindakan kita, agar tidak menjadi sia2 apa yg menimpa kita atw yg kita prbuat,
    amin.

    >>>pH: Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s