Ada Apa dengan Ulama?

Aa Gym mengatakan bahwa gelas yang sudah penuh sebaiknya jangan diisi lagi. Pernyataan yang menunjukkan ia takut ditinggalkan penggemarnya. Bagaimana jika gelasnya berisi air yang kotor, A?”

“Athian Ali berfatwa bahwa mahasiswa yang menyatakan “Anjing Hu Akbar” dan “Di Sini Area Bebas Tuhan” adalah murtad dan harus dihukum mati. Dibenarkankah fatwa tersebut? Bukankah yang berhak mengeluarkan hukum adalah lembaga yang diberi wewenang oleh hukum berdasarkan undang-undang yang berlaku?”

“Perlu dipertanyakan pula keyakinan ulama dalam masalah Adam adalah manusia pertama, buah khuldi, Nabi Khidir dan Isa naik ke langit.”

Setidaknya itulah penyataan-pernyataan kritis yang disampaikan Dr. Ir. Soekmana Soma, MSP, M.Eng dalam buku yang berjudul “Ada Apa dengan Ulama? Pergulatan antara Dogma, Akal, Kalbu dan Sains”. Buku jadul yang diterbitkan oleh GagasMedia ini merupakan buku “campur aduk” tulisan-tulisan penulisnya tentang berbagai masalah sosial keagamaan yang ada dalam masyarakat.

Ternyata, kritik Pak Soekmana tidak berakhir sampai di situ. Ia pun banyak mengkritik para penganut agama dalam menjalan kehidupan beragamanya. Dalam tulisan pendahuluannya, ia menyebutkan bahwa bumi sekarang ini tak henti-hentinya dirundung malang akibat perselisihan, pertengkaran, perseteruan, dan peperangan antar manusia. Celakanya, para manusia yang bertengkar itu adalah mereka yang mengaku beragama. Islam sebagai agama damai. Kristen agama kasih. Yahudi terkenal dengan keharusan mencintai tetangga seperti mencintai dirinya sendiri. Tetapi realita di lapangan menurut Soma menunjukkan gejala sebaliknya. Para pemeluknya saling bertikai. Bahkan kadang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan ‘mulia’ menurut versi mereka. Inilah yang menjadi tanda tanya besar Pak Soekmana terhadap keber-agama-an mereka selama ini. Apa yang sebenarnya mereka perjuangkan? Perebutan harta, lahan dan kekuasaan kah? Ataukah demi mencari arti sebuah kebenaran? Jika kebenaran yang menjadi tujuan akhir semua rencana, bukankah kebenaran dapat dicapai dengan jalan damai? Begitu pendapatnya.

Saya menduga, buku ini lahir dari kegelisahan panjang sang penulis dalam menyikapi masalah-masalah krusial di planet biru bernama bumi. Setidaknya penulisnya hanya ingin berbagi pemikiran dengan pembaca tentang banyak hal. Ia seakan membuka jalan diskusi panjang tentang pemikiran-pemikiran dan pergulatan antara dogma, akal, kalbu dan ilmu pengetahuan (sains) yang berkembang di masyarakat. Semuanya dikembalikan pada pembaca. Entah setuju atau tidak, semua terserah anda. Buku ini seperti mengajak kita merenung dalam-dalam. Membaca lembar demi lembarnya membuat saya terhenyak dengan pemikiran-pemikiran logis, kritis, analisis. Ia bercerita tentang banyak hal, terutama menyangkut perilaku pemeluk tiga besar agama dunia: Yahudi, Kristen dan Islam. Pertanyaan-pertanyaan mulai dari “Benarkah Adam manusia pertama?” sampai dengan “Apakah santa klaus itu fiksi atau nyata?” menjadi “cerita seru” yang menarik untuk dikaji kembali. Pada beberapa hal memang terdengar kontroversial tetapi membaca buku ini membuat saya mendapat tambahan pengetahuan baru. Pengetahuan yang belum pernah saya dapatkan dari bangku sekolahan manapun. Karena ia lahir dari proses panjang penulisnya dengan ‘membaca’ buku besar bernama kehidupan.

In the rama you (pondokhati), 19 Desember 2011

2 comments on “Ada Apa dengan Ulama?

  1. terima kasih sudah membaca buku tulisan saya. manusia memiliki otak depan atau otak rasional (frontal lobe) yang berfungsi sebagai penilai dari pikiran yang masuk ke dalam otak tengah (limbic). Manusia pada umumnya mengandalkan otak tengah, yang merupakan otak hewaniah karena lebih mengarah pada instink semata. Dengan demikian, dalam sejarah peradabannya manusia lebih banyak menikmati dogma, dongeng, kisah, mitos, yang tidak mengenal benar dan salah. Pokoknya dipercaya mau benar atau salah. Lama-mala mitos, dogma dan sebagainya seolah-olah menjadi benar.

    >>>PH: Wuah, senangnya dapat kunjungan dari Pak Soekmana Soma. Buku yang membuat saya berfikir…🙂

  2. Wah Pak Soekmana Soma komentar di kolom komentar. Saya dulu juga sempat mikir untuk mencari email Pak Soma setelah membaca “Ada Apa Dengan Ulama?”. Kebetulan saya membeli buku Pak Soma di pameran buku independen tahun 2012 yg diadakan di Kota Malang. Saya pikir waktu itu gila yang nulis pasti jenius. Saya suka dengan bab yang membahas tentang Nabi Adam dan manusia purba (pithecantropus). Dan topik-topik perdebatan yang diangkat dalam buku tersebut sungguh berbobot. Saya menjadikan buku “Ada Apa Dengan Ulama?” sebagai salah satu koleksi buku terbaik di lemari tempat saya menyimpan koleksi buku saya. Bab tentang “Pandangan Voltaire”, “Kisah Galileo”, “Al-Quran Karya Seni Maha Tinggi”, “Kemuliaan Hajar”, dan “Agama Adalah Sains” benar-benar keren. Buku ini juga bisa digunakan untuk menangkal kristenisasi. Saya jadi teringat pengalaman saya saat berdialog dan berdebat dengan para misionaris Amerika saat membaca bab dimana Pak Soma berdialog dengan Brian dan Joshua anak pendeta dan seorang aktivis kristen (misionaris) asal North Carolina. Saya sangat suka berdialog dan berdebat dan buku yang bapak tulis memberi saya pengetahuan sehingga saya tidak mudah dibodohi untuk mempertahankan keyakinan saya sebagai seorang Islam saat berdialog dengan para misionaris muda. Ingin sekali membaca buku-buku bapak yang lain tapi sangat sulit mencarinya di toko buku karena dulu saya dapatnya justru dari pameran buku indipenden. Yang saya sangat penasaran adalah apakan sekarang Brian dan Joshua sudah masuk Islam? Soalnya saya membaca kisah Brian dan Joshua saya sedikit terharu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s