50 Chinese Wisdoms

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Pada waktu itu, tak seorang pun tahu, dimana negeri antah berantah itu ada dalam peta. Tetapi Rasulullah telah mengisyaratkan hal itu. Hingga akhirnya, sahabat Sa’ad bin Abi Waqash pun berkesempatan menjadi utusan yang datang ke China (kalo gak salah waktu zamannya Dinasti Ming). Itu pun terjadi pada zaman Khulafaur Rasyidin, beberapa puluh tahun setelah Nabi wafat.

Perkembangan China sekarang ini sungguh pesat. Ekonominya maju. Pembangunan pun begitu. Tak pernah ada yang menduga sebelumnya, dari negara komunis yang tertutup (negeri tirai bambu) dan terkesan ‘misterius’ ini, sekarang malah menjadi macan Asia yang bertaring raksasa. Bukan tidak mungkin China  akan menjadi ‘ancaman’ negeri barat macam Amerika karena potensi ekonomi yang luar biasa. Di Indonesia sendiri, siapa yang tak kenal produk China? Meski kalah kualitas, tetapi ia hadir dengan harga ‘miring’ yang terjangkau masyarakat menengah ke bawah. Ada yang pernah bilang, bahasa internasional itu harusnya bahasa Mandarin, bukan bahasa Inggris. Kenapa? Itu karena hampir di setiap negara selalu saja ada orang Tionghoa. Anda setuju?

Ah, sudahlah. Kita memang harus banyak belajar dari negeri China. Tentang pemberantasan korupsi misalnya.  Ada pemimpin China dengan tegas bilang gini, “Persiapkan 100 peti mati untuk koruptor. Satu untuk saya jika memang saya terbukti melakukan tindak pidana korupsi”. *Wuaaah, kereen! Mungkinkah negeri kita bisa tegas seperti ini? *garuk-garuk kepala.

Tiba-tiba  saja, saya teringat dengan sebuah buku yang dihadiahkan seorang teman (Shinta K). Buku terbitan Gramedia ini berjudul “50 Chinese Wisdom” karya Leman. Bagi saya, buku ini sangat menarik. Isinya tentang lima puluh (lebih) kisah kebijaksanaan klasik berusia 5000 tahun yang sangat populer dan mendunia. Kisah-kisahnya sendiri dikutip dari cheng yu, yakni peribahasa China yang umumnya terdiri dari empat huruf dan sarat makna. Membaca kisah-kisah ini membuat saya mendapat suntikan motivasi dan curahan pesan moral yang dikirim Tuhan dari langit gara-gara membaca sejarah dan kisah mereka. Menariknya, kisah-kisah klasik ini cukup relevan menjadi pembelajaran kita di era modern sekarang ini. Unik. Kadang menggelitik.

Sebagai contoh misalnya, kisah tentang pencurian di losmen. Sudah berbagai macam cara dilakukan, tetapi polisi tidak tetap tidak berhasil menemukan pelakunya. Akhirnya ditemukanlah  taktik unik untuk menjebak pelaku. Polisi pun mengumpulkan para tersangka, lalu ia memberi pengarahan. “Lonceng itu adalah lonceng ajaib. Silakan anda satu persatu berjalan melewati lorong ini. Dan ketika Anda melewati lonceng ini, saya minta Anda memegangnya. Jika Anda memang pencurinya, lonceng akan berbunyi ketika Anda pegang” demikian kata polisi. Setelah semua mengerti, dipadamkanlah lampu dan seketika ruangan menjadi gelap. Semua tersangka pun berjalan melewati lonceng. Ketika semua selesai diperiksa, ternyata lonceng tetap tidak berbunyi. Aneh. Lampu pun kembali dinyalakan. Semua tersangka berbaris kembali untuk diperiksa. Ternyata, lonceng ‘ajaib’ itu telah diolesi tinta. Mereka yang tidak bersalah, tentu tidak akan takut memegang lonceng. Dan akhirnya, ditemukanlah pelaku sebenarnya pencurian tersebut yaitu seseorang dengan telapak tangan yang masih bersih, tanpa bekas tinta apapun. Ia takut, lonceng akan berbunyi jika ia memegangnya. Maka dia pun melewati lorong tanpa menyentuh lonceng sedikit pun. Kasus pun terselesaikan. Kisah ini didasarkan dari peribahasa China yang berbunyi “wu shi bu pa gui jiao men” (jika tidak berbuat salah, Anda tak perlu takut hantu mengetuk pintu). Inspiratif bukan? Ini hanya salah satu kisah. Masih ada kisah-kisah lain yang lebih seru dan sayang untuk dilewatkan.

In the rama you (pondokhati), 20 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s