Sketsa Negeri Para Anjing

Lelaki itu berteriak, memanggil. Langkahnya saling beradu mengejar bayangan. Api obor yang dipegangnya meliuk-likuk. Tapi tak ada sahutan. Bayangan itu semakin mempercepat langkahnya menembus kelam.

“Apa kamu tidak kasihan terhadap anak dan istrimu?! Bukan begini cara membahayakan mereka!”

Bayangan di depan tiba-tiba berbalik. Matanya merah berkilat-kilat. “Aku berhak aras hidupku sendiri. Jangan halangi aku!”

Dipandanginya bayangan itu dengan tatapan sedih. Perlahan-lahan bayangan itu berubah; menghitam, dan bulu-bulu tumbuh memenuhi badannya yang kini berkaki empat.

Lolongan anjing semakin jelas dan mengerikan. Bayangan yang telah menjelma anjing itu berlari menuruni bukit., menghambur bersama anjing-anjing lain, memperebutkan bangkai busuk menjijikan. Anjing itu saling berkejaran, berebut, dan menyeret bangkai ke sana kemari. Mereka saling mencakar. Lolongannya menggema memenuhi lembah-lembah. Lalu?

***

Huft, aku menghela nafas setelah membacanya. Itulah sepenggal sinopsis kisah dalam cerpen apik karya Shabrina berjudul “Negeri Para Anjing”. Sepanjang pengembaraan (membaca), tak henti-hentinya aku bergidik ngeri. Tanpa sadar, dia telah membawaku pada sebuah pergulatan batin yang panjang. Tentang sebuah pilihan dan jalan hidup untuk bahagia. Dua lelaki kembar dengan jalan yang berbeda. Satu hitam, satu putih. Usaha seorang kakak menyelamatkan adiknya dari pesugihan. Dengan nuansa kearifan lokal jawa yang khas, cerpen ini mengalir lancar dengan suspense (ketegangan) yang memikat. Aku tak sabar untuk menyelesaikannya sampai akhir meski dengan perasaan yang tercabik-cabik (hehe..). Di akhir cerita, ada kejutan-kejutan kecil yang tak terduga. Duh, serasa menerawang jauh ke angkasa. “Andai saja… andai saja…”

Cerpen ini jika kita hayati lebih jeli, (bagiku pribadi) menyiratkan sebuah pesan moral yang dalam. Menjadi ‘manusia’ memang pilihan. Tapi begitu banyak para manusia yang justru ingin menjadi ‘binatang’ entah sadar atau tidak. Terdorong oleh kebahagiaan semu yang masih samar, mereka merasa jalan yang mereka pilih seolah-seolah menjadi pilihan terakhir ketika semua pilihan sudah tidak mungkin lagi. Gencetan ekonomi, misalnya. Tak sedikit dalam masyarakat kita terjadi pergolakan batin antara harta dan iman. Pantas saja, Imam Ali Kw pernah berkata, “Kefakiran kadang mendekatkan pada kekafiran”. Ini menjadi dalil yang jelas, bahwa pilihan-pilihan yang bertentangan dengan iman adalah sebuah kesalahan. Namun sekali lagi, Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Bagaimana gigihnya lelaki pertama (kakak) mengajak lelaki kedua (adik) pada kebaikan (terlebih dia adalah saudara sendiri), namun jika hidayah itu tidak mampir ke hatinya, akan menjadi hal tersulit untuk dilalui. Ya, manusia hanya berusaha, dan biarkan Tuhan yang menentukan.

Eits, masih ada cerpen-cerpen keren lainnya loh. Tentu saja dengan kisah-kisah yang tak kalah seru. Tentang kesederhanaan yang menggetarkan jiwa (Biarkan Hati yang Menyentuhnya, Pak Tua di Ujung Senja), rumah tangga (Jodoh untuk Prass, Lelaki Pilihan Erina, Tentang Mas Darman) dan masih banyak lagi. Total ada 15 cerpen yang terangkum dalam kumpulan cerpen keren karya Shabrina berjudul “Sketsa Negeri Para Anjing”. Sayang untuk dilewatkan begitu saja. Selamat membaca.

In the rama you (pondokhati), 22 Desember 2011

Iklan

2 comments on “Sketsa Negeri Para Anjing

  1. Blognya Ibnu toh. Siip pak ibnu

    >>>pH: Iyaaa.. Makasih Pak Denny sahabatku yang baik hati dan tidak sombong ^^b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s