Belajar dari Delisa, Gadis Kecil Berwajah Cahaya

Namanya Delisa. Enam tahun usianya. Gadis kecil dari Lhok Nga berwajah cahaya. Ia gadis periang dan baik hati. Impiannya tak muluk-muluk. Ia hanya ingin bisa menghafal bacaan shalat, seperti kakak-kakaknya dulu dan mendapat hadiah terindah berupa kalung yang ummi berikan untuknya. Maka hampir setiap hari ia pun menghafal bacaannya. Memulainya dengan doa iftitah: “… innash-sholaatii wanusukii wamahya-ya wa ma-maati lillaahi robbil ‘aalamiin..” (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam). Lalu beralih menghafal pada bacaan ruku’ dan sujud yang sering tertukar karena miripnya.
“Subhaana robbiyal ‘adhiimi wa bihamdi” (Maha suci Tuhanku yang maha besar dengan segala pujiannya)
“Subhaana robbiyal a’laa wa bihamdi” (Maha suci Tuhanku yang maha tinggi dengan segala pujiannya)
Ya, impiannya cuma satu: bisa menghafal bacaan shalat dengan sempurna.

Dan hari itu pun tiba. Saat dimana ia mulai diuji hafalan shalatnya di sekolah tercinta. Ia pun mulai membaca takbiratul ihram dan doa iftitah. Lalu, tanpa di duga, “Duaarrr….” Bumi terguncang Langit-langit sekolah runtuh. Air menggunung, bergulung-gulung menenggelamkannya.

Ia kehilangan ummi (ibu) dan keempat kakaknya. Hanya dirinya yang selamat dari bencana setelah berhari-hari pingsan tanpa makan dan minum bersama ratusan mayat yang bergelimpangan di sana sini. Akhirnya, tim penyelamat pun berhasil mengevakuasinya. Delisa memang selamat, meski kakinya harus diamputasi. Tetapi ia masih tetap sama seperti dulu. Selalu periang dan baik hati. Bersama abi (ayah)-nya yang selamat karena tidak di tempat kejadian, mereka pun mulai merenda hidup baru di Lhok Nga, Aceh. Pasca tsunami yang menenggelamkan desanya, tujuh tahun silam. 26 Desember 2004.

Kisah ini memang fiksi. Dikutip dari novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye yang sekarang sudah bisa dilihat versi film layar lebarnya. Meskipun fiksi, tetapi kisah ini cukup memberikan gambaran betapa dahsyatnya kejadian hari itu. Bermula dari gempa dahsyat berkekuatan 8,9 SR yang menimbulkan patahan di dasar laut. Air laut tertarik sesaat kemudian kembali menghantam wilayah-wilayah di sekitar pantai dengan gelombang tinggi bernama tsunami. Masih teringat dengan jelas, bagaimana rupa Aceh waktu itu. Panik. Tangis. Takut. Semua bercampur menjadi satu. Banyak orang bilang, kalau Tsunami Aceh hari itu adalah bencana terbesar sepanjang sejarah yang menewaskan hampir 200.000 orang di beberapa negara: Indonesia, Malaysia, Thailand, Srilangka dan sekitarnya. Dunia terhenyak. Simpati pun mengalir dari berbagai penjuru. Semua orang bersatu tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras dan antar golongan. Mereka digerakkan oleh satu tangan kebaikan bernama rasa kemanusiaan.

Semenjak hari itu, Indonesia dan sekitarnya menjadi wilayah yang rawan bencana. Tercatat ratusan kali gempa dengan berbagai skala kekuatan menghantam negeri kita. Gempa Yogya, Pangandaran, Tasikmalaya, Padang, Mentawai dan daerah-daerah lain di Indonesia. Tentu saja meninggalkan kerusakan, korban jiwa dan duka yang mendalam.

Para ulama banyak yang menjelaskan, ketika bencana menimpa suatu negeri (gempa bumi, tsunami, banjir bandang, meletus gunung berapi dll), itu sejatinya adalah tanda yang dikirimkan Allah untuk ummatnya. Setidaknya ada tiga tanda yang Dia kirimkan kepada umat manusia melalui bencana.

  1. Sebagai ujian Tuhan kepada kita. Firman Allah dalam surat AL BAQOROH. 155 menjelaskan. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” Juga dalam surat AZ ZUMAR. 49. “Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.”
  2. Sebagai peringatan Tuhan untuk kita. Firman Allah dalam surat ANBIYAA’. 76. “Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.”
  3. Sebagai adzab Tuhan kepada kita. Berkenaan dengan ini, kisah kaum ‘Aad (zaman Nabi Hud) yang durhaka bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat 21-25 surat AL AHQAAF. (21). Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar.” (22). “Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (23). Ia berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh.” (24). Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, (25). yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.

Maka setiap kali bencana datang, kita hanya bisa merenung: “Apakah ini ujian, peringatan atau azab Tuhan untuk kita sebagai manusia?”. Wallahu A’lam. Duhai Rabbi, ampuni kami yang selalu menganiaya diri kami sendiri.

Dari Delisa kita belajar itu semua. Seorang gadis kecil dari Lhok Nga, Aceh, yang menerima segala bencana dengan lapang dada sambil terus berdoa dan berusaha menyelesaikan bacaan shalatnya sampai selesai. Ia tak lagi ingin hadiah kalung. Ia hanya ingin shalat dengan sempurna. Menghadap Sang Pencipta dengan wajah cahaya.

In the rama you (pondokhati), 26 Desember 2011. Peringatan tujuh tahun bencana tsunami Aceh. Allahummaghfirlahum Warhamhum Wa’afiihim Wa’fu ‘Anhum.

Trailer Film “HAFALAN SHALAT DELISA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s