Dari Pena untuk Dunia

Saya memang bukan anggota FLP. Maksudnya, saya tidak pernah terdaftar secara resmi di salah satu cabang FLP. Tetapi saya tahu FLP dari dulu. Sekitar tahun 2000/2001. Gara-garanya adalah pernah baca majalah yang isinya sebagian besar adalah cerpen, Annida. Kerennya lagi, cerpen-cerpen itu bukan kisah cinta picisan, tetapi kisah-kisah menakjubkan full hikmah. Selalu ada yang membekas di hati ketika selesai membacanya. Ruhani saya yang nge-drop serasa di-charge kembali. Tiba-tiba saja, ghirah untuk mempelajari islam pun meningkat secara signifikan. Seperti ada semangat yang buncah ketika membaca epik-epik keren dan penuh perenungan karya Mbak Helvy Tiana Rosa (HTR). Saya juga suka dengan serial Nida-nya Mbak Dian Yasmina Fajri yang sangat-sangat remaja namun tetep islami.

Dari majalah inilah, saya dapat info tentang sebuah organisasi kepenulisan yang saat itu baru berkembang. Namanya Forum Lingkar Pena (FLP) yang konon digagas oleh Mbak Helvy, Mbak Muthmainnah dan Mbak Asma Nadia sebagai founding mothers. Hehe. Belakangan saya akhirnya tahu, Mbak Asma adalah adik kandung Mbak Helvy. Asli!🙂

FLP memang sangat fenomenal. Organisasi ini cepat sekali dikenal. Banyak orang-orang yang ingin mendaftarkan diri sebagai anggota. Tujuannya tak lain adalah satu, belajar bagaimana menjadi seorang penulis. Saya termasuk di dalamnya. Waktu masih di Bogor, saya sempat mencari infonya di internet. Ternyata, FLP tidak mempunyai cabang di Bogor. Untung ada contact person yang bisa dihubungi. Maka tekad saya pun bulat untuk menelpon. Ternyata, keberadaan orang yang saya hubungi tidak jelas. Katanya sudah pindah kost. Jiaaah.

Gara-gara FLP, pada masa itu, fiksi islami mengalami booming yang luar biasa. Buku-buku mereka akhirnya banyak diterbitkan dan menghiasi etalase toko-toko buku. Penulis muda banyak bermunculan. Logo FLP berupa bola dunia dengan sebuah pena menghiasi sampul belakang buku-buku mereka. Beruntung saya akhirnya bisa mengoleksi buku-buku tersebut satu persatu ketika ada duit berlebih. Hampir sebagian besar anggaran pengeluaran terbesar saya memang untuk membeli buku. Sampai FLP ganti logo dengan gambar buku yang terbuka membentuk tulisan ”FLP” pun saya tetap mengoleksi. Anggotanya tak lagi di dalam negeri, tetapi merambah ke mancanegara. Jumlahnya ribuan.

Hampir sebagian besar buku koleksi saya adalah kumpulan cerpen dan novel karya penulis di FLP. Hampir sebagian besar pula saya menyukai karya-karya mereka. Waktu dulu, bersama teman-teman, saya pernah mendirikan perpustakaan keliling untuk mahasiswa jurusan yang buku-bukunya hampir sebagian besar berupa novel/kumpulan cerpen penulis FLP. Buku-buku dari mahasiswa yang dipinjamkan untuk mahasiswa.

Sampai sekarang pun saya masih mengoleksi buku-buku karya mereka. Kadang terbit kerinduan untuk mencari buku-buku FLP yang belum sempat saya koleksi jaman dulu. Tetapi sekarang, buku-buku tersebut sudah tidak beredar di pasaran seperti buku Kembara Kasih, Pesantren Impian, Manusia-manusia Langit, Al Bahri, Peace Maker, dll *terbitin lagi doong🙂. Ada juga buku-buku yang pernah saya baca, tetapi tidak saya miliki. Saya hanya pinjam dari seorang teman/perpustakaan keliling.

Maka akrablah saya dengan karya-karya Helvy Tiana Rosa (Ketika Mas Gagah Pergi, Akira, Lelaki Kabut dan Boneka), Asma Nadia (Serial Aisyah Putri, Pesantren Impian, Kerlip Bintang Diandra, Istana Kedua, Emak Ingin Naik Haji), Muthmainnah (Serial Pingkan, Rahasia Dua Hati), Dian Yasmina Fajri (Tiga Ribu Tanda Tangan, Serial Nida, Suami Romantis), Izzatul Jannah (Setitik Kabut Selaksa Cinta, Padang Seribu Malaikat, Denting-denting Bintang), Muttaqwiati (Sebaran Wangi Kesturi, Menyisir Jalan Menangkap Matahari), Golagong (Trilogi Pada-Mu Aku Bersimpuh, Al Bahri: Aku Datang dari Lautan, Nyanyian Perjalanan duet dengan HTR), Afifah Afra (Trilogi Bulan Mati di Javasche Orange, Kembang Luruh di Rimbun Jati), Pipiet Senja (Serpihan Hati, Kidung Kembara), Melvi Yendra (Anugerah Terindah, Konspirasi), Ali Muakhir (Serial Olin duet dengan Dyotami), Dewi F Lestari (Bulan dalam Jelaga), Rahmadiyanti (Sejuta Cinta di Sidney duet dengan DFL), Habiburrahman El Shirazy (Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih), Agustrijanto (Wiracarita Adi Cenik), Iyus (Po Box Akhirat), Novia Syahidah (Putri Kejawen), Nurul F. Huda (Biarkan Aku Memulai, Bayangan Bidadari), Galang Lufityanto (Bisikan dari Langit), Sinta Yudisia (Lafaz Cinta) dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Jumlahnya banyak sekali. Sebagian buku-buku tersebut sekarang menjadi koleksi taman bacaan & inspirasi PONDOK HATI, sebuah taman bacaan gratis yang saya kelola di Indramayu.

Saya memang bukan anggota FLP. Tapi saya menyukai FLP dan belajar banyak dari para penulisnya meski tidak secara langsung. Gara-gara FLP (dan buku-bukunya) saya merasa

”lebih nyambung” ketika membaca fiksi islami. Jika tidak keberatan, katakanlah saya adalah simpatisan FLP. Bagi saya, FLP adalah salah satu pionir yang luar biasa bagi pergerakan sastra fiksi islam di Indonesia. Kini, tak terasa usianya sudah 15 tahun (1997-2012). Usia yang bisa dikatakan aqil baligh untuk lelaki. Hehe.. Selamat milad untuk FLP! Teruslah menebar inspirasi dan hikmah. Dari Pena untuk Dunia. Saya ingin belajar dan terus belajar. Tiba-tiba, saya ingin bertemu langsung dengan para penulis FLP yang hebat-hebat itu sambil berujar, “Mas, Mbak apa kabar? Saya ngefans loh dengan buku-buku Mas dan Mbak semua!”🙂

*Event Sejam Menulis Serentak dalam rangka Milad FLP (pukul 11.00 – 12.00 WIB)

in the rama you (pondokhati), 19 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s