Mari Menghitung Zakat Pertanian

Tengoklah sebentar di sepanjang jalan yang kiri-kanannya terbentang sawah. Akan kita lihat para petani dan buruh tani yang sedang bergembira memanen padi mereka. Meski lelah, senyum tak lekang dari wajah mereka. Sepertinya, musim tanam tahun ini berhasil dengan baik. Hasilnya cukup melimpah. Tentu itu semua berkat rahmat Allah Swt. Maka dari itu, ada bagian dari harta kita yang tak boleh dilupakan. Allah memerintahkan kita untuk menafkahkan (infaq) sebagian dari rezeki kita untuk mereka yang membutuhkan. Yang wajib dinamakan zakat, sedangkan yang sunnah dinamakan shodaqoh.

Berkaitan dengan masalah zakat, para ulama fiqih telah menyusun dasar hukum syara’ yang jelas bersumber dari Al Qur’an, Hadist, Ijma dan Qiyas.  Seperti misalnya, dalam kitab Sullamut Taufiq, Imam Nawawi Al Bantani menjelaskan bahwa unta, sapi, binatang ternak (kambing dan biri-biri), kurma, anggur kering dan tanaman yang dijadikan makanan pokok pada waktu subur bukan pada musim paceklik, emas, perak, barang tambang dari emas dan perak, barang simpanan zaman kuno dari emas dan perak, harta perdagangan dan fitrah wajib dizakati.

Nishab adalah batas ukuran minimal jumlah harta seseorang yang wajib dizakati. Dalam pertanian, permulaan nishab zakat kurma, anggur kering, dan tanaman (yang dijadikan makanan pokok) adalah 5 wasaq atau 300 sha’. Jika dikonversi dalam bentuk padi, kurang lebih 1125 kg gabah. Hal ini berarti, jika seorang petani menghasilkan padi dari sawahnya sebanyak itu atau lebih, maka hasil panen padi tersebut wajib dikeluarkan zakatnya. Imam Nawawi pun menjelaskan, harus mengumpulkan pendapatan tanaman dalam setahun. Jika jumlah keduanya sudah mencapai nishab, maka wajib dizakati. Tetapi jika setelah digabungkan tidak mencapai nishab, maka tidak wajib dizakati. Dibedakan pula jenis tanamannya. Misalnya zakat kurma dibedakan atau dihitung terpisah dengan zakat padi, tidak dicampur.

Wajib zakat itu jika buah sudah mulai tampak berisi dan bijinya mengeras. Jika menggunakan air hujan, sungai, maka zakatnya adalah sepersepuluh (10%). Tetapi jika menggunakan pengairan dari membeli, memakai mesin diesel dan sejenisnya, maka zakatnya separuhnya yaitu seperduapuluh (5%). Penghitungan zakat padi tidak boleh dikurangi dengan biaya untuk memanen (catu), menjemur, mengangkut,  dll.

Perlu diketahui, zakat hasil paroan sawah diwajibkan atas orang yang punya benih sewaktu mulai menanam. Jika yang mengeluarkan  benihnya adalah petani yang mengerjakan sawah itu (muzara’ah), maka zakat seluruh hasil sawah yang dikerjakan tersebut dibebankan kepada petani yang menggarapnya. Jika benih berasal dari yang punya tanah (mukhabarah), maka zakat itu wajib dikeluarkan oleh pemilih sawah. Jika benih dikeluarkan secara bersama-sama, maka zakat pun dibebankan atas keduanya. Intinya, siapa yang memiliki benih, dialah yang memiliki kewajiban untuk berzakat.

Agar lebih memiliki gambaran, mari kita lihat contoh kasus berikut ini.

  1. Pak Ali adalah seorang petani. Pada musim tanam ini, ia menanami sawahnya dengan padi. Ketika panen tiba, sawahnya menghasilkan padi yang cukup banyak. Setelah ditimbang, didapatkan gabah sebanyak 1300 kg. Menurut hukum fiqih, Pak Ali terkena kewajiban zakat karena penghasilannya sudah mencapai nisab yang disyaratkan yakni 1125 kg gabah. Jika sawahnya diairi oleh air hujan atau air sungai, maka ia wajib membayar zakat sebesar 10% yaitu 130 kg gabah. Jika airnya diperoleh dengan cara membeli, menggunakan mesin diesel dll, maka kewajiban zakatnya hanya separuhnya (5 %) sebanyak 65 kg gabah.
  2. Pak Umar juga seorang petani. Pada musim penghujan (rendeng), ia menanam padi dan menghasilkan gabah ketika panen sebanyak 1000 kg gabah. Jika satu musim, tentu tidak akan mencapai nishab. Lalu, Pada musim kemarau (gadu), ia menanam padi lagi di sawah dan menghasilkan 600 kg gabah. Menurut hukum fiqih, dalam setahun, hasil panen Pak Umar harus digabungkan. Ternyata jumlah sebanyak 1600 kg gabah, sudah mencapai nishab. Pak Umar pun wajib membayar zakat . Jika sawahnya diairi oleh air hujan, sungai, maka ia wajib membayar zakat sebesar 10% yaitu 160 kg gabah. Jika airnya diperoleh dengan cara membeli, menggunakan mesin diesel dll, maka kewajiban zakatnya hanya separuhnya (5 %) sebanyak 80 kg gabah.
  3. Pak Budi hanyalah petani kecil. Pada musim penghujan (rendeng), ia menanam padi dan ketika panen tiba, menghasilkan gabah sebanyak 500 kg gabah. Jika satu musim, tentu tidak akan mencapai nisab. Lalu, Pada musim kemarau (gadu), ia menanam padi lagi di sawah dan menghasilkan 200 kg gabah. Dalam setahun, penghasilan panennya dijumlahkan sebanyak 700 kg, tetap tidak mencapai nishab yang disyaratkan dalam ilmu fiqih. Jadi Pak Budi tidak terkena kewajiban zakat. Namun ia boleh bershodaqoh menurut kemauannya sendiri.

Semoga contoh-contoh di atas dapat memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana cara menghitung zakat pertanian. Tulisan ini sebagai bentuk tawashow bil haq, mengingatkan dan menggugah kesadaran kita tentang pentingnya masalah zakat pertanian yang kerap dilupakan ketika panen tiba. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bishshawwab.

“….dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin)…”

QS. Al An’am. 141

in the rama you (pondokhati), 15 April 2012

11 comments on “Mari Menghitung Zakat Pertanian

  1. Assalamualaikum wr.wb. Saya mau tanya,karna aku bingung. Zakat padi diketerangan diatas kan pakenya 130 kg gabah dari 1300kg padi saat panen,apakah kalo zakatnya itu mesti pake gabah juga! jadi tdk dalam bentuk beras.tentunya kalo dlm bentuk beras sudah tdk jadi 130kg kan? Karna sudah diselip!.yang kedua bagaimana jika sawahnya itu dari sewa tahunan,apa perhtungan zakatnya juga sama? Syukron.Mohon jawabanya.wassalamualaikum wr.wb.

    >>>pH: Wa’alaikum Salam Wr. Wb. Jika dihitung dalam bentuk gabah, maka zakatnya juga harus gabah sejumlah tersebut (10% atau 5% tergantung pengairan). Kalau dijadikan dalam bentuk beras tentu berbeda. Menurut ulama, zakat pertanian diwajibkan kepada mereka yang punya benih, entah itu tanah milik sendiri atau tanah sewa tahunan. Wallahu A’lam.

  2. saya pikir ada kekeliruan..perlu diketahui bhwa khusus zakat pertanian maka tidak ada haulnya,tpi cma ada nishabnya aja..ini berlaku pda zakat pertanian,dan barang tambang..sesuai dg firman allah (dan keluarkanlah zakatnya pada hari memmanenya..
    )

  3. mau tanya apabila yang kewajiban zakat kebetulan punya terbelit hutang yang banyak,bagaimana hukumnya apakah tetap harus menzakati hasil pertaniannya sementara dia termasuk ghorim.syukron mohon jawabannya

  4. mau tanya ust. saya sudah panen padi dan mencapai nishob, tapi masih ada yg belum dipanen n kira2 1 bulan lagi yng mau dipanen, apakah cara mengeluarkannya saya harus menunngu panen berikutnya apakah mau dikeluarkan sekarang zakatnya?

    >>>pH: lebih baik disegerakan. sisanya bisa menyusul, 5 atau 10 % dari total panen. Wallahu a’lam.

  5. apakh menghitung zakat panen di kurangi modal terlebih dahulu……
    mohoh bantuannnya…………

    >>>pH: sepertinya tidak. Wallahu A’lam.

  6. pertanian apa saja yang wajib di zakati ?

    >>>pH: Menurut imam Syafi’i yang wajib dizakati adalah makanan pokok, sedangkan menurut imam Hanbali, yang wajib dizakati semua tumbuhan yang menghasilkan, tidak hanya makanan pokok saja. Wallahu A’lam.

  7. apa boleh zakat pertanian sebagian diberikan kepada orang tua atau mertua

    >>>pH: Tidak boleh jika orang tua atas nama fakir atau miskin, karena mereka adalah tanggungan atau tanggung jawab anak untuk menafkahinya. tetapi kalau sebagai gharim (otrang yang punya hutang) atau amil (pengumpul zakat), boleh. pendapat ini saya nukil dari fiqh islam karya sulaiman rasyid. wallahu a’lam

  8. assalamu’alaikum. ana mau nanya kepada siapapun yang berkenan menjawab, kurang lebih pertanyaannya begini. dalam zakat pertanian/perkebunan apakah modal atau biaya menggarap ladang dari tanam sampai panen termasuk harus dihitung zakatnya atau cukup hasil panennya saja yang dihitung zakatnya. dan yang kedua mengapa zakat profesi hanya 2,5 % padahal zakat profesi itu didasarkan pada analogi zakat pertanian yang dalam ketentuan berdasarkan syareatnya 5% atau 10%. syukron atas jawabannya dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan yang lebih baik bagi siapapun yang berkenan menjawb pertanyyaan ini.

    >>>pH: wa’alaikum salam wr. wb. yang dizakati adalah hasil panen. untuk zakat pertanian 10 %/5% memang terlalu besar dibandingkan dengan zakat maal lainnya yang “cuma” 2,5%. tetapi ini sudah ketentuan Allah, dan ada hikmah besar yang mungkin tidak kita mengerti. zakat bertujuan untuk membersihkan harta kita sekaligus hati kita dari penyakit kikir. wallahu a’lam. barangkali ada yang bisa menambahkan?

  9. Tanya, apakah zakat petanian bisa di bayarkan dalam bentuk uang?

    >>>pH: sebagian ulama ada yang membolehkan zakat dikonversi dengan uang, asalkan senilai dengan harga yang sedang berlaku. wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s