Mengapa Tidak Mau Berzakat?

Seorang petani dengan mata berbinar melihat hasil panennya tahun ini melimpah ruah. Berton-ton padi masuk ke dalam gudangnya. Ia beranggapan, semua ini berkat kerja kerasnya yang tak kenal lelah mengelola sawah sehingga menghasilkan gabah yang melimpah. Senyumnya makin mengembang ketika membayangkan jumlah uang yang akan ia dapatkan jika gabahnya dijual nanti.

Sampai suatu hari, tiba-tiba saja anaknya sakit yang mengharuskannya dibawa ke rumah sakit. Dokter menyarankan untuk dioperasi. Namun, setelah semua dilakukan, sakitnya tak kunjung sembuh. Hartanya semakin lama semakin berkurang untuk pengobatan biaya anaknya. Hampir saja ia putus asa. Dalam gamang, ia bertemu dengan seorang ustadz. Diceritakanlah semua keluh kesahnya.

Sang ustadz pun bertanya, “Kalau boleh tahu, apa pekerjaan Bapak?”

“Saya hanya seorang petani”

“Berapa hasil panen yang Bapak dapat selama setahun?”

“Mm..  berapa ya, mungkin sekitar 10 ton lebih.”

Subhanallah. Apakah Bapak sudah menunaikan kewajiban?”

“Apa itu, Ustadz?”

“Misalnya, membayar zakat dari hasil pertanian?”

Petani itu menggeleng.

Lalu Ustadz pun menjelaskan tentang pentingnya kewajiban zakat dalam kehidupan.

“Tunaikanlah kewajiban zakatmu, Pak. Perbanyak pula shadaqoh karena ia dapat menolak bala’/bencana”

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan diri dan menyucikan mereka” (QS. At Taubah: 103)

Zakat adalah pembersih. Ia akan menjadi pembersih harta kita yang kotor karena ada hak-hak orang lain dalam harta kita. Jika zakat tidak dikeluarkan, harta kita akan tetap kotor secara bathin. Akibatnya, hidup menjadi tidak tenang, harta tidak berkah.. Maka ketika panen tiba berdoalah, “Berilah kami hasil panen yang berkah, bukan sekedar melimpah” karena meski sedikit, jika berkah, percayalah, semua akan terasa cukup. Terasa lapang, nyaman dan menenteramkan.

Maka ketika ada yang tidak beres dengan kehidupan kita, cobalah tengok sebentar, ingat-ingat kembali, “Apakah kita sudah mengeluarkan kewajiban zakat dari harta kita?”. Anak-anak yang bandel dan susah diatur, istri yang nusyuz (durhaka), suami yang jahat, adanya musibah, penyakit, tha’un dll, bukan tidak mungkin adalah implikasi (akibat) dari kita tidak menunaikan kewajiban zakat dari harta kita.

Zakat bukan hanya pada pertanian. Beberapa benda yang wajib dizakati menurut ilmu fiqih diantaranya: binatang ternak (unta, sapi, kerbau, kambing), emas perak, biji-bijian yang dapat mengenyangkan (makanan pokok), buah-buahan (kurma, anggur), harta perniagaan (dagangan), hasil tambang, rikaz (harta terpendam) dan zakat fitrah. Ada juga yang menambahkan dengan zakat profesi (penghasilan selain dari perniagaan) mis. gaji bulanan pekerja kantor. Semua itu wajib dikeluarkan zakatnya jika telah mencapai nisab. Masalah zakat ini dikupas tuntas dalam ilmu fiqih. Jika tidak mengerti, janganlah segan atau pun malu untuk bertanya kepada para kyai atau ustadz. Insya Allah mereka akan memberikan penjelasan yang baik tentang masalah ini.

Selain itu, ada beberapa manfaat lain dari kewajiban berzakat seperti yang dijelaskan Sulaiman Rasjid dalam Fiqh Islam, diantaranya:

  1. Menolong orang yang lemah dan susah agar dia dapat menunaikan kewajibannya terhadap Allah dan msayarakat.
  2. Membersihkan diri dari sifat kikir dan akhlak tercela serta membiasakan diri bersifat mulia dan murah hati.
  3. Sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih atas segala anugerah yang Allah berikan.
  4. Mencegah kejahatan yang dilakukan oleh si miskin yang susah. Tak sedikit orang miskin yang nekat menjadi jahat untuk merampok harta orang-orang kaya, terutama yang kikir dan pelit.
  5. Mendekatkan hubungan cinta kasih sayang antara si miskin dan kaya.

Sampai di sini, jelaslah bahwa zakat memiliki dimensi yang luas. Zakat akan mengeratkan tali silaturahmi, memutus jurang pemisah anatara si kaya dan si miskin, mengokohkan ukhuwah islamiyah, menguatkan ekonomi dan taraf hidup masyarakat dan berbagai manfaat lainnya. Jadi, mengapa masih tidak mau berzakat? Wallahu A’lam Bishshawwab. [i@R]

Lalu, pada siapa zakat kita berikan? Berikut delapan orang yang berhak menerima zakat.

  1. Fakir
  2. Miskin
  3. ‘Amil (panitia pengumpul zakat)
  4. Muallaf (orang yang baru masuk islam)
  5. Hamba sahaya (budak)
  6. Ghorim (orang yang banyak hutang)
  7. Sabilillah (berjuang di jalan Allah)
  8. Ibnu Sabil (musafir dalam kebaikan mis. menuntut ilmu)

in the rama you (pondkhati), 15 April 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s