[Cerpen] Ibu Bejo

pasarSiang yang menyengat. Matahari yang gagah membuatku gerah. Kuseka peluh yang mulai membanjiri wajahku. Bakul sayur yang kugendong memang telah berkurang separuh. Kugadaikan nasibku dan nasib anakku dibakul ini. Lelaki yang selama ini menjadi tumpuan hidupku menghilang entah kemana. Empat tahun yang lalu, ia pamit akan ke kota untuk mengadu nasib. Sambil mengecup Bejo, buat cinta kami yang masih berumur tiga bulan, ia berjanji pulang saat lebaran tiba sambil membawa segepok uang. Ia pergi membawa segenggam harapan.

Tiap malam, aku menunggunya dengan hati gamang. Masih kuingat dengan jelas, malam lebaran aku menunggu di depan pintu rumah diiringi suara takbir yang terdengar dari surau di ujung jalan. Kang Dullah, lelakiku itu nyatanya tak pulang. Mungkin esok hari, esok hari, harapku. Tetapi Kang Dullah yang kutunggu tetap tak pernah pulang. Bahkan sampai hitungan keempat, tahun ini. Entah dimana, aku tak pernah tahu.

Maka tidak ada jalan lain, meski lelah yang mendera, di tengah karang ketidakpastian, aku harus berjuang seorang diri. Aku harus hidup meski tanpa Kang Dullah. Berjualan sayur mayur ke rumah-rumah penduduk menjadi rutinitas harianku. Hasilnya memang tidak seberapa, tetapi cukuplah untuk menyambung hidup kami berdua.

Ketika masih kecil, Bejo kutitipkan ke Mbak Ratna tetanggaku yang baik hati. Sampai usia tiga tahun, Bejo kerapkali kutitipkan. Terpaksa. Beruntungnya Mbak Ratna punya anak sebaya Bejo. Kadang ia pun merengek ikutan. Aku tak tega membawanya pergi berkeliling kampung. Bukan apa-apa, kalau sudah nangis, Bejo justru malah merepotkanku. Ia minta gendong. Maka semakin beratlah bebanku, menggendong Bejo dan bakul sayur.

Beruntungnya, ketika usianya mulai agak besar, ia sudah mulai mengerti dengan rutinitas harianku berjualan sayur. Ia rela ditinggal dan mau bermain dengan Parman, anak Mbak Ratna yang sebaya dengannya.

Tapi, pagi tadi Bejo merengek minta ikut. Ia menangis. Aku melarangnya. Bejo pun ngambek. Perlu bujukan agak lama, sampai ia mau aku tinggalkan setelah berjanji akan membawakannya kue jajanan.

“Sayuuur… Bu Parmi, sayurnya, Bu. Masih ada nih.” Kataku menawarkan dagangan yang belum habis.

“Oh, sudah beli, Mbak Lela.”

“Baiklah. Mari, Bu…” kataku sambil menganggukkan kepala.

Tiba-tiba saja, dengan tergopoh-gopoh seorang tetangga, Yu Astuti menghampiriku.

“Cepat pulang, Mbak! Anak-mu… anakmu…” katanya dengan nada khawatir. Aku pun ikut panik. Apa yang terjadi dengan anak lelaki semata wayangku?

“Kenapa, Yu? Apa yang terjadi?” aku pun ikut panik.

“Pulang saja. Cepetan…”

Aku menggegaskan langkahku sambil menggendong bakul sayurku. Pikiranku dijejali tanya, apa yang terjadi dengan Bejo, anakku.

Tiba di rumah, kuletakkan bakul sayurku di depan. Tak kupedulikan isinya yang tumpah ruah berceceran.

“Nopo toh, leee….?” teriakku masuk rumah.

Rumahku dijejali banyak orang. Orang-orang mulai memandangku iba. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Yang sabar ya, Mbak Yu…” kata seorang merangkulku dan menuntunku masuk ke dalam.

Dengan langkah tergetar, Kulihat Bejo kecilku terbaring di kasur. Matanya terpejam. Tubuhnya mulai membiru.

“Tidaaaak…. Kenapa anakku????” Aku seperti kesetanan menubruk tubuh mungil Bejo yang mulai membiru.

“Banguun, Nak… banguuun… Emak di sini. Emak pulaangg… Banguuun… Ini kue jajanan yang kamu minta sudah emak belikan…” aku menangis meraung-raung.

“Kenapa Bejo, Mbak?”

“Anakmu terjatuh ke sumur, Mbak!”

“Tidaaaaak…….” Aku menjerit.

“Nyebut… mbak…. Nyebut…” seseorang membisikkanku kalimat-kalimat suci.

“Maafkan aku. Mbak Lela. Aku sendiri tak tahu kejadiannya. Tadi Bejo main dengan Parmin, anakku. Tetapi mendadak Bejo pengen pulang karena pengen ketemu sampeyan. Kukira, benar kau sudah pulang. Ternyata belum. Kami pun mencari Bejo. Tidak juga ketemu.” Kata Mbak Ratna bercerita sambil menangis.

 “Dan tanpa sengaja, ketika melongok ke sumur belakang rumah, ada sesesok tubuh mungil. Ketika Mas Leman mengangkatnya dibantu dengan orang-orang, nyawa Bejo sudah tidak ada” Mbak Ratna masih menangis sesenggukan.

“Gusti Allaaaaah………” aku menjerit.

Orang-orang mulai sibuk membantu mempersiapkan pemakaman Bejo. Hatiku benar-benar hancur berkeping-keping.

Menjelang sore, ketika selesai pemakaman Bejo, samar kudengar berita di televisi salah seorang tetangga. Seorang penyiar membacakan berita, “Sebuah bom meledak di kawasan elit. Sekitar 20 orang tewas dan mengancurkan bangunan. Diduga, bom itu dibawa oleh seorang lelaki berinisial WS (36 th) dan rekannya DL (33 th). Sampai sekarang, polisi masih menyelidiki motif pelaku dan menyebarkan sketsa gambar lelaki yang diduga membawa bom itu.”

“Loh, bukannya itu….?” kata orang-orang mulai menduga-duga.

“Mbak Lela… lihat.. lihat…” kata seseorang menunjuk ke televisi.

Tetapi kudengar bisik-bisik penyesalan di antara mereka.

“Wssuushh… shhhdssww…swhhhwqsss” mereka berbisik.

Sambil menangisi kepergian Bejo, samar kulihat televisi polisi menampilkan sketsa wajah dua orang. Pemilik salah satu wajah itu benar-benar kukenal. Wajah Kang Dullah yang selama ini kutunggu dimalam-malam yang gamang. Aku lunglai. Hari ini bom benar-benar meledak menghancurkan hatiku. Dan tiba-tiba semua gelap.

in the rama you (pondokhati), 30 Juni 2012 (rewrite)

Iklan
By pondokhati Posted in CERPEN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s