Generasi Ciyus Miapah

Bener juga jika ada ungkapan, “Bahasa mencerminkan bangsa”. Sejatinya, bahasa adalah sebuah penyampaian pesan-pesan visual sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban umat manusia. Kita tak bisa menolak bahwa bahasa mengalami perkembangan yang luar biasa. Tak terkecuali dengan bahasa kita, bahasa Indonesia.

Dulu, masih teringat jelas, ada istilah ejaan lama. Huruf U ditulis dengan OE. Huruf J ditulis DJ. Huruf Y ditulis J. Dan seterusnya. Sampai akhirnya, ejaan tersebut mengalami perkembangan, lalu diganti dengan ejaan yang disempurnakan (EYD). Seperti namanya, bahasa Indonesia pada tahap ini mencapai tingkat kesempurnaan yang dirasakan pas, tepat dan terdengar indah.

Namun agaknya, era sudah berganti. Begitu juga dengan bahasa kita. Kemajuan atau justru kemunduran? Entahlah. Di tengah serbuan bahasa asing, bahasa gaul dan kini bahasa alay, bahasa Indonesia benar-benar mengalami ujian.

Bahasa alay yang disebutkan terakhir memang sedang booming dan dianggap ngetren. Padahal, istilah alay sendiri sebenarnya tidak jelas asal usulnya. Alay, konon katanya merupakan akronim ‘anak layangan’. Entah dari mana asal muasal penamaan ini.

Bahasa alay sendiri ternyata ada berbagai macam versi.

Pertama, bahasa yang ditulis dengan percampuran antara huruf dan angka. Bagi saya pribadi, ini sungguh menyulitkan dan susah dibaca. Tetapi entah mengapa dianggap keren meski bikin mata sepet. Contoh. “Aku sedang galau” ditulis : “Aq s3d4n9 94L4w.” Huhu beraaat.

Kedua, bahasa yang diucapkan/ditulis dengan meniru lafal lidah yang cadel, lebih tepat dicadel-cadelkan, seperti bahasanya anak kecil yang baru belajar ngomong. Anehnya bahasa ini justru disukai karena terkesan lucu, manja, imut, menggemaskan sekaligus menggelikan. Contohnya, “serius, demi apa?” ditulis “ciyuus miapah?” Duh. Duh.. Cuma bisa geleng-geleng kepala. Yang lebih parah, mengganti tulisan yang berbau agama dengan bahasa-bahasa alay. Misalnya “Assalamu’alaikum” ditulis “Micum.” Lalu kata-kata “Ya Allah” ditulis “Yaolo”. Astaghfirullah, saya hanya bisa mengelus dada. Ini sungguh membahayakan.

Jauh sebelum bahasa para alay, ada bahasa gaul. Tetapi bahasa ini akhirnya nyasar ke pengguna para waria. Contohnya “aku mau makan” ditulis “akika mawar makan”. Serem dan menakutkan. Hehe.

Ironis rasanya memperhatikan perkembangan bahasa kita akhir-akhir ini. Terlebih lagi ketika Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda yang salah satu isinya menjunjung tinggi bahas persatuan, bahasa Indonesia. Tak bisa dibayangkan, apa jadinya para pendahulu kita jika melihat bahasanya menjadi kacau dan rusak parah seperti ini.

Tapi begitulah. Mungkin benar, zaman memang tak bisa dilawan. Semua ada masanya. Jika sedang ngetren dan populer, sulit rasanya untuk dibendung. Apalagi peran media sungguh luar biasa. Diulang, diputar berkali-kali. Sampai hafal dan jadi kebiasaan. Jika sudah begini, bagaimana wajah bangsa ini?

Saya jadi membayangkan, andai para pendahulu kita hidup kembali dan ikut berkumpul pada peringatan sumpah pemuda hari ini. Niscaya betapa bingungnya mereka melihat para pemuda jaman sekarang saling bertegur sapa dengan bahasa alay,
“Ciyuuus miapah? Enelaaan dweh”.

Selamat datang di era “Generasi Ciyus Miapah”. Lucu sekaligus memprihatinkan 😦

PONDOKHATI, 281012 (Hari Sumpah Pemuda)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s