Negeri yang Tak Lagi (Ny)Aman

rusuhSetiap orde atau masa tidak selalu meninggalkan kesan yang buruk secara keseluruhan. Boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu tersimpan kebaikan yang tidak kita ketahui. Begitu juga sebaliknya. Selalu ada pro dan kontra, ada kebaikan dan keburukan, ada kelebihan dan kekurangan. Orde baru, misalnya. Meski dikecam habis-habisan karena pemimpinnya terindikasi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) akut, otoriter, dll, tapi ada satu hal yang bisa dipetik pelajaran berharga dari kepemimpinan masa orde baru, salah satunya adalah masalah stabilitas keamanan nasional.

Semenjak orde baru runtuh, pemimpinnya tumbang, bergantilah ke orde reformasi yang membawa angin segar bagi orang-orang yang merindukan kebebasan. Bebas untuk berbicara, berpendapat, berekspresi dan sejenisnya. Bebas untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Lalu, harapan pun membumbung tinggi. Upaya penegakan hukum mulai diatur ulang dan diperbaiki. Korupsi harus diberantas, dan tingkat kesejahteraan rakyat harus diprioritaskan.

Namun semakin lama kok, mulai ada yang tidak beres. Orde reformasi yang digadang-gadang membawa pergerakan ke arah perbaikan, nyatanya tak lebih hanya sekedar jalan di tempat. Orientasinya pun semakin tak jelas. Kebebasan disalahgunakan menjadi bebas tak terbatas, bebas tak bertanggung jawab.

Akibatnya, tak sulit kita temui carut marut sistem demokrasi di negeri ini. Saling serang antar instansi lembaga negara tak terelakkan. Pemberantasan korupsi tidak sebanding dengan tingkat penyebarannya yang mencapai tingkat mengkhawatirkan.

Kebebasan berpendapat menjadi tidak terkontrol lagi. Tak sedikit demonstrasi yang berakhir ricuh, rusuh, akibat disusupi oleh provokator yang tidak bertanggung jawab. Banyak media pers yang sudah tak lagi proporsional menyampaikan berita, mencampuradukkan antara fakta atau sekedar gosip belaka. Tingkat kriminal pun meningkat drastis mencapai tingkat yang sadis.

Lalu kemana para aparat penegak hukum? Masa bodo. Itu sebagian. Mereka para penegak hukum yang masih bersih, jujur dan arif tentu merasa bingung. Saya sadar betul, akibat penerapan peraturan HAM yang membingungkan, menjadikan posisi mereka serba bingung dan tanggung. Ingin bersikap tegas, takut malah dituduh melakukan pelanggaran HAM berat. Dibiarkan saja juga salah karena kekacauan ada dimana-mana. Seperti memakan buah simalakama. Ditambah lagi, ada mafia hukum yang bersaing ketat dengan mafia narkoba dan mafia birokrasi yang sudah merajalela.

Satu hal yang saya rindukan di zaman orde baru adalah terjaminnya keamanan nasional. Meski kadang kala terlalu ekstrim dan membuat wajah militer terlihat angker. Disatu sisi menyimpan kebaikan. Di sisi lain ada keburukan yang tak bisa dielakkan. Kebaikannya, kejahatan dan tindak kriminal secepatnya segera diatasi. Sebelum adanya ribut, huru hara yang lebih besar, para pelaku sudah lebih dulu dieksekusi. Akibatnya, banyak yang takut untuk berbuat onar. Keburukannya, militer kadang dijadikan alat penguasa kejam untuk mencapai tujuannya yang berorientasi pada kekuasaan.

Dulu, ada yang namanya petrus alias penembak misterius. Orang-orang yang terindikasi melakukan tindak kriminal, mantan residivis selalu dicurigai dan dipantau keberadaanya. Jika melakukan tindakan yang mengganggu stabilitas, sedikit saja udah langsung “dibereskan” oleh sang bos besar. Memang sih ada dampak buruknya. Para mantan narapidana yang sudah kembali ke jalan benar, tetap terkena imbasnya dan terkadang menjadi objek penderita akibat salah sasaran.

Sekarang? Tanpa malu-malu orang berani menodong, menjambret, merampok. Sedikit saja ada masalah sepele, berujung pada bentrok, rusuh antar kampung. Pelajar pun begitu. Tawuran menjadi kebiasaan jelek yang tak pantas ditiru. Aparat lagi-lagi bingung harus berbuat apa? Mereka hanya datang ketika dipanggil. Itu pun kadang sudah sangat terlambat. Kekacauan sudah menyebar dan kerusakan tak dapat dicegah.

Akibatnya, tingkat kepercayaan masyarakat pada aparat penegak hukum mencapai titik nadir. Implikasinya sungguh mengerikan. Banyak warga yang langsung main hakim sendiri ketika terjadi tindak kriminal. Perampok yang tertangkap warga digebuki dan dibakar beramai-ramai. Eksekusi lahan hampir selalu diwarnai kericuhan. Baku hantam sesama anak negeri tak terelakkan. Darah mengucur dari tubuh saudara sendiri, saudara sebangsa setanah air. Kalau sudah begini, siapa yang rugi kalau tidak kita sendiri.

Menyikapi hal ini, katanya ada usulan pemerintah di DPR untuk dibuat rancangan undang-undang (RUU) keamanan nasional. Memang belum jelas bagaimana bentuk RUU ini. Dan sudah bisa ditebak, tentu saja selalu ada yang pro dan kontra. Yang setuju, merasa gerah melihat kondisi negeri yang carut marut seperti ini, sehingga RUU ini harus dilanjutkan. Yang tidak setuju beralasan kalau RUU semacam ini hanya akan menghambat proses demokrasi dan ditakutkan akan membuat militerisasi kembali berkuasa.

Lalu bagaimana solusinya? Tentu ini tugas berat para anggota dewan yang katanya terhormat itu untuk meyakinkan bahwa RUU ini harusnya bertujuan baik. Tentu dengan penyesuaian-penyesuain agar bisa diterima dengan baik. Dan perlu diingat, kalau pun nanti disetujui seberapa efektifkah RUU ini mampu mengatasi masalah-masalah krusial yang mewarnai negeri ini tanpa melukai pihak-pihak yang tidak bersalah?

Sekali lagi ini hanya pendapat yang tidak menjamin kebenaran absolut. Selalu ada celah untuk dikritisi guna menemukan solusi terbaik. Namun yang pasti, bagi kami, masyarakat kecil hanya berkeinginan untuk bisa hidup dengan (ny)aman di tanah kelahiran sendiri. Lalu, mampukah para pemimpin itu mewujudkannya? Kita hanya bisa berharap dalam doa-doa tulus di atas sajadah panjang negeri ini.

In the rama you (pondokhati), 081112

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s