[Fiksimini] Elegi Sore Hari

sawahDi bawah pohon kersen (Muntingia calabura), aku menatapimu dalam diam. Terduduk aku menyaksikan drama kehidupan bernama dirimu. Di ambang senja, engkau masih saja bergelut nestapa. Bersama lumpur yang masih melekat di tubuhmu, dan tetesan kehidupan di sebagian dahimu yang kini mulai mengering. Ada namaku di sana, yang kau catatkan bersama selarik doa kerasmu di sepanjang sore ini.

“Ini semua untukmu, Nak!” katamu dalam senyum.

Akhirnya aku tahu, baginya, lelah ini bukan nestapa tapi bahagia. Aku hanya bisa terdiam dalam pikiran yang tak bisa kuterjemahkan. Dan tiba-tiba saja ada yang mulai basah di hatiku, perlahan.

“Terima kasih untuk semuanya, Ayah” kata-kata itu hanya sampai di kerongkongan. Pekat.

Sebuah honda civic pun melintas. Pengendaranya seseorang dengan kopiah putih. Tampak juga kitab suci dan tasbih tergeletak di dashboard depan. Ia menyapa kami, lalu tertawa renyah yang lebih terdengar seperti merendahkan. Seketika aku iri padanya. Iri pada kemewahan. Ayah sepertinya tahu.

“Tetaplah menjadi dirimu, Nak. Semua hanyalah topeng. Zuhudlah walaupun kau telah memiliki semua hal yang kau inginkan. Milikilah hati yang samudera. Dan andaikan kau tak punya apa-apa sekalipun, kita masih punya satu hal: pikiran yang bahagia bersama kebaikan Tuhan. Jagalah itu padamu, selamanya.”

Aku terdiam. Langit di ufuk barat mulai memerah. Aku tahu, itu pertanda esok hari akan cerah.

in the rama you (pondokhati), 030113

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s