Pulanglah ke Hatimu, Lorosa’e

 always be in your heartApa kabarmu, Lorosa’e? Apakah dirimu masih seperti dulu? Ataukah dirimu sudah kokoh berdiri setelah tiga belas tahun berpisah? Semenjak referendum tahun 1999, aku sungguh pedih mengingatnya, ketika perlahan kau mulai luruh melepas merah putihmu. Engkau lebih memilih hidup dengan keputusanmu sendiri. Pilihan sulit, memang. Konflik internal yang tak kunjung reda, merenggut bahagia, mencipta banyak tangis di Jembatan Air Mata. Sementara itu, sebagian lainnya yang masih menyimpan semangat nasionalisme di dada, lebih memilih berkorban meninggalkan tanah kelahiran menuju tanah harapan atas nama kesetiaan. Ya, jalan telah kau pilih. Biarkan sejarah menulis tentang kisah ini dalam warna yang beraneka rupa.

Apa kabarmu, Lorosa’e? Duduklah sejenak bersamaku. Kita nikmati secangkir kopi, semangkuk koto dan sepiring roti pa’un di Cafe Ermera. Akan kuceritakan sebuah kisah indah tentangmu. Juga tentang mereka yang namanya diam-diam membekas dalam hati dan ingatanku, perlahan. Marsela. Juanito. Randu. Juga tentang anjing mereka, Lon dan Royo.

Sebuah novel apik karya Shabrina Ws terbitan Qanita ini kiranya cocok menemani bincang-bincang kita hari ini. Baiklah. Kita mulai dari covernya. Cukup cantik dan menarik dengan warna kuning sebagai latar dan hiasan bunga di atasnya. Lalu, di bagian tengah dan bawah, kita akan melihat seekor burung dan sebuah sangkar yang kosong. Always be in Your Heart. Pulang ke hatimu.

Aku terkesan membaca prolognya. Kalimat-kalimatnya indah namun menyimpan kepedihan yang mendalam. Sebuah kisah bernama cinta segitiga. Kita takkan menyangka, jika kisah ini diawali dengan narasi yang indah dari seekor anjing bernama Lon. Inilah ciri khas penulisnya sebagai seorang fabelist sejati.

Lalu, kisah pun bermula. Marsela dan Juanito adalah dua sahabat masa kecil. Mereka sangat dekat. Bagi Marsela, keluarga Juanito adalah keluarganya juga. Apalagi semenjak istri Mario, ibu dari Marsela telah tiada. Tika dan Frans, orang tua Juanito adalah orang tuanya juga, yang selalu menyayanginya dengan sepenuh jiwa. Begitu juga dengan Juanito. Baginya, Marsela adalah sosok adik yang perlu dijaga dengan segenap kemampuannya. Maka, ia berjanji untuk selalu melindunginya sampai kapanpun. Sampai akhirnya, ketika mereka mulai beranjak dewasa, ada segenggam rasa yang diam-diam menyusup di hati mereka. Inilah sebuah kisah sederhana tentang cinta. Keluarga mereka pun sepakat untuk membingkainya dalam mahligai pernikahan.

Konflik pun mulai tercipta ketika mahkamah internasional memutuskan menggelar referendum di tanahmu, Lorosa’e. Kerusuhan pecah di mana-mana. Bentrok antar pendukung tak bisa dihindarkan lagi. Pernikahan mereka pun tertunda untuk waktu yang tak berkepastian. Dua pilihan berbeda. Marsela dan ayahnya lebih memilih merah putih dan mengungsi, sementara itu keluarga Juanito memilih tetap tinggal di bumi Lorosa’e. Juanito berjanji akan menyusul Marsela ketika suasana telah reda. Meski pilihan berbeda, mereka tetap saling mengasihi.

Hidup sungguh penuh misteri. Banyak yang telah dikorbankan untuk sebuah kesetiaan. Marsela pun menjalani hari-hari yang berat ketika Mario akhirnya meninggal dunia. Meski lelah, Marsela tetap menunggu Juanito. Sampai akhirnya ia bertemu Randu, pemuda baik hati yang selalu membantunya melewati hari-hari berat menjalani hidup. Dan Juanito yang ditunggunya tak juga datang.

Waktu pun mengalir deras. Sepuluh tahun memang waktu yang cukup untuk mengubah arah aliran Sungai Talau. Itu katamu, bukan? Lalu, apakah Marsela akan tetap menunggu Juanito? Atau justru lebih memilih Randu sebagai pengisi ruang hatinya yang kosong? Kau harus membacanya sampai akhir. Akan banyak kejutan tak terduga yang membuat hatimu ketar ketir plus geregetan. Lalu, kisah pun diakhiri dengan narasi yang indah dari Royo, anjing saudara Lon.

Bagiku, novel ini telah memberikan kesan yang mendalam setelah membacanya. Menulis kisah yang romantis tidaklah semudah yang dibayangkan. Bukan sekadar kisah cinta roman picisan. Menjadi lebih menarik, ketika kisah cinta ini tumbuh di tanah konflik. Menurutku, Always be in Your Heart lebih dari sekedar romantis, tetapi bermakna. Di dalamnya ada kasih sayang, cinta, ketulusan, kesetiaan, kemanusiaan, persahabatan, pengorbanan, dan sedikit bumbu nasionalisme. Nuansa lokal pun cukup terasa –meskipun porsinya memang kurang banyak– dengan hadirnya beberapa jenis panganan khas Lorosa’e dan bahasa Tetun, asli Timor Leste.

Selamat ya, Mana Shabrina Ws. Obrigadu barak telah mengajakku dalam Viajen ba Lorosa’e. Bagiku, ini sungguh sebuah perjalanan yang luar biasa. Akhirnya, kopiku tandas, roti pa’un dan koto pun ludes, tetapi kenangan tentang Marsela, Juanito dan Randu ini tetap membekas. Selalu ada jalan untuk menemukan kembali kenangan-kenangan itu agar sampai ke hati. Ya, seperti kisahmu kali ini, Pulang ke Hatimu…

In the rama you, 150313

Contekan Bahasa Tetun:

Mana = Mbak

Roti pa’un = ya, sejenis roti gitu.

Koto = makanan khas Timor Leste, dari kacang merah.

Viajen ba Lorosa’e = perjalanan ke Timur.

Obrigadu barak = terima kasih banyak.

2 comments on “Pulanglah ke Hatimu, Lorosa’e

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s