Ngaji Bareng Kang Said

ar-Risalah syafiiSuatu hari, saya diajak seorang teman untuk menghadiri pengajian. Kebetulan yang menjadi pembicaranya adalah Prof. Dr. Said Aqil Siradj. Beliau adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Panggilan ‘Kang Said’ lebih terasa akrab di telinga, karena kebetulan beliau asli dari Cirebon, putra dari KH. Aqil Siradj Kempek.

Dalam ceramahnya, Kang Said menguraikan banyak hal. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan, seharusnya membawa kemajuan akhlak. Tetapi kenyataannya tidak selalu seperti itu. Ketinggian ilmu  kadang tidak berbanding lurus dengan ketinggian akhlak. Aktifitas seorang Muslim hendaknya jangan dihabiskan di luar rumah, tetapi harus ada aktifitas di dalam rumah. Salah satunya adalah dengan cara mendalami dan memperluas pemahaman ajaran-ajaran agama islam.

Menurut Kang Said, tugas ulama ada dua yaitu Liya-tafaqqohu fiddiin = mendalami ilmu agama Islam. wa-liyundiru qaumahum = dakwah dan mendidik masyarakat agar lebih baik (akhlak dan agamanya). Kedua tugas ini seringkali kita temui dalam pendidikan pesantren. Akhlaq, moral dan karakter diajarkan di pesantren bukan di sekolah umum.

Lalu, Kang Said pun bercerita tentang kisah unik penulisan sebuah kitab yang sekarang banyak dipakai dalam dunia pesantren. Abdurrahman al Mahdi, seorang gubernur Asia Tengah pernah berkirim surat kepada Imam Syafii (150 -204 H). Dalam surat tersebut, sang Gubernur menulis, “Syaikh, saya ingin paham agama Islam dengan benar! Bagaimana caranya?”

Mendapat surat dari Gubernur seperti itu, Imam Syafi’i kemudian memanggil Rabi’ bin Sulaiman al Murobi, salah satu asistennya. Imam Syafi’i berkata, “Kita harus menjawab surat dari Gubernur. Saya yang ngomong, kamu yang tulis!”

Karena kedalaman ilmunya, Imam Syafi’i membalas surat dari Gubernur sampai 300 halaman yang berisi tentang ilmu ‘Ushul Fiqih. Akhirnya surat balasan untuk Gubernur tersebut menjadi sebuah kitab terkenal karya Imam Syafi’i dan diberi judul “Ar Risalah”. Kitab ini seringkali dijadikan rujukan oleh para ulama salaf di pesantren-pesantren di Indonesia.

Salah satu kutipan dalam surat balasan tersebut di antaranya, “Tuan Gubernur, jika anda ingin paham tentang agama Islam, maka anda harus paham hal-hal berikut ini…”

  1. Harus paham Bayan Ilahi, yaitu Al Qur’an.
  2. Harus paham Bayan Nabawi, yaitu Hadist Nabi.
  3. Harus paham Bayan ‘Aqli, yaitu akal para ulama. Terbagi menjadi dua yaitu Ijma (kesepakatan ulama) dan Qiyas (analogi). Ijma bersifat rasional dan global, sedangkan Qiyas bersifat individual.

Sebagai contoh, penjelasan tentang shalat. Dalam Al Qur’an, penjelasan tentang shalat hanya bersifat umum, tidak dijelaskan secara rinci. Nama-nama dan waktu shalat baru dijelaskan dalam hadist Nabi. Itu juga masih belum rinci. Barulah dalam Ijma dan Qiyas dijelaskan secara rinci syarat, rukun dan tatacara shalat dengan baik dan benar seperti yang dicontohkan Nabi.

Contoh lain, Kang Said menguraikan tentang sejarah singkat Al Qur’an. Di Zaman Nabi, Al Qur’an tidak mempunyai tanda titik dan harakat seperti yang dipakai kita sekarang ini.  Para ulama lah yang mempunyai gagasan bagaimana caranya agar Al Qur’an bisa dibaca dengan baik, bukan hanya oleh orang Arab saja tetapi untuk seluruh kaum muslim sedunia. Itu pun bertahap. Abul Aswad ad-Du’ali adalah pembuat tanda titik pada huruf ba, ta, tsa, jim dan huruf hijaiyah lainnya. Imam Kholil bin Ahmad al Farohidi, membuat tanda harakat fathah, kasroh, dommah dan sukun. Abu Ubaid Qasim bin Salam menciptakan ilmu tentang bagaimana tatacara membaca Al Qur’an dengan baik yang kemudian dikenal dengan ilmu Tajwid.

Hadist Nabi pun baru dibukukan di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau pernah menyuruh Syaikh Syihabuddin Romahul Muzi untuk membuat ilmu Mustholahul Hadist untuk menyeleksi hadist-hadist Nabi yang asli karena pada saat itu banyak beredar hadist-hadist palsu (maudu’). Ilmu nahwu disusun oleh Imam Shibaweh. Ilmu kalam disusun oleh Wasil bin ‘Atho, yang kemudian disempurnakan Imam Abu Hasan al Asy’ari dan Abu Mansyur al Maturidi. Ilmu balagoh disusun oleh  Amr bin Ubaid. Ilmu tafsir  Al Qur’an secara lengkap disusun oleh Abu Jafar bin Jarir at-Thobari.

Indramayu, 4 Juli 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s