“Duhai, Engkau Pemimpin!”

pemimpinAbu Ja’far Ibnu Jarir at-Thabari, seorang ahli Tafsir Al Qur’an pernah ditanya, “Apa yang harus kita minta jika Allah hanya mengabulkan satu-satunya permintaan kita di dunia?”. Beliau menjawab, “Mintalah untuk diberi pemimpin yang adil, arif dan bijaksana!”. Ungkapan ini terdengar ringan, tetapi terasa tegas, jelas dan lugas. Memilih pemimpin bukanlah perkara mudah karena akan menentukan nasib kita sebagai rakyat yang dipimpinnya. Jika pemimpinnya baik, maka sebagai rakyat, kita juga akan menjadi baik. Namun jika pemimpinnya buruk, maka rakyat akan menerima akibat serupa.

Memiliki seorang pemimpin yang arif, adil dan bijaksana berarti mempersiapkan kebahagiaan bagi setiap orang. Ia akan berhati-hati dalam mengemban amanah yang dipikulnya. Ia akan membawa kemaslahatan (kebaikan) bagi negeri yang dipimpinnya. Akibatnya, ia rela mendahulukan kepentingan rakyat yang dipimpinnya, di atas kepentingan pribadi dan keluarganya.

Tiba-tiba keisengan saya kambuh. Saya tergelitik untuk bertanya, “Adakah pemimpin seperti itu di zaman kita sekarang ini?” Iseng-iseng saya coba membandingkan model kepemimpinan zaman dahulu di masa Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali) yang berorientasi akhirat dengan pemimpin yang berorientasi dunia. Perbandingan ini tentu saja tidak mengandung nilai kebenaran mutlak (absolut), tetapi hanya bersifat nisbi (relative) belaka. Perbandingan ini tidak pula bermaksud untuk mendiskriditkan kelompok atau pihak tertentu. Ini hanya sebuah tulisan murni sebagai bentuk perenungan kita bersama.

INDIKATOR PEMIMPIN BER-ORIENTASI AKHIRAT PEMIMPIN BER-ORIENTASI DUNIA
Metode pemilihan Diajukan oleh orang banyak Mengajukan diri untuk ditunjuk
Ketika terpilih Menangis sedih Tertawa gembira
Ucapan ketika terpilih “Astaghfirullah” “Alhamdulillah”
Orientasinya Urusan akhirat Urusan dunia
Kepentingan yang didahulukan Kepentingan rakyat tanpa memandang siapapun Kepentingan pribadi, keluarga dan golongan yang memilihnya
Memilih pembantu / staff Yang bertaqwa dan profesional Taqwa nomer sekian yang penting punya jasa terhadap kemenangan dirinya
Modal harta Hampir tidak ada, sehingga ketika tidak terpilih justru tidak merasa rugi apapun Banyak banget, buat ini itu (termasuk money politic) sehingga kalau tidak terpilih jadi stress karena rugi banyak
Tugas awal Memikirkan bagaimana caranya agar rakyat mendapatkan hak-nya Memikirkan bagaimana caranya dia mendapatkan hak-nya biar “balik modal”
Kekayaan Hampir sama seperti sebelum diangkat menjadi pemimpin, bahkan ada yang justru berkurang karena didermakan di jalan Allah Kekayaan meningkat drastis, dengan fasilitas serba mewah kelas nomor satu
Pelayanan Selalu Ingin melayani Selalu ingin dilayani
Ketika perang Maju paling depan Dilindungi di belakang
Ketika iring-iringan Selalu ingin di posisi belakang Selalu ingin di posisi depan
Sifat jabatan yang diemban Sebagai amanah, yang memikul tanggung jawab berat Sebagai anugerah, yang bisa nikmati dengan rasa bangga

Dalam kitab Riyadhush Shalihin karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An Nawawi, saya menemukan sebuah bab menarik tentang “Larangan Melantik Pejabat yang Ambisi Jabatan.” Dari Abdurrahman bin Samurah: Sabda Rasulullah Saw kepadaku, “Hai Abdurrahman bin Samurah, kamu jangan mencalonkan diri/ minta kedudukan di pemerintahan karena jika kau diserahi jabatan tanpa memajukan permohonan sebelumnya, pasti kau akan dibantu dalam melaksanakan tugasnya. Namun jika kau raih jabatan itu atas usul pencalonan dirimu, maka tugas itu akan membebani bahumu. Dan ketika kamu angkat sumpah untuk melakukan suatu pekerjaan, kemudian dalam kenyataannya kamu mengerjakan sesuatu yang lain lebih baik, maka tebuslah sumpah tersebut lalu kerjakanlah yang lebih baik itu.” (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hadist lain, dijelaskan sebagai berikut. Dari Abu Musa Al Asy’ari, katanya: “Aku masuk ke rumah Nabi Saw, bersama dengan dua orang sepupuku. Lalu salah seorang dari kedua (sepupu) tersebut berkata, “Ya Rasul, berilah tugas bagiku dari sekian bidang tugas yang engkau terima dari Allah.” Kemudian orang kedua pun melakukan hal yang sama yakni memohon diberi jabatan dari Rasulullah Saw. Maka beliau Saw, menjawab, “Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun dalam memegang jabatan/tugas terhadap orang yang berambisi menduduki jabatan tersebut.” (HR. Bukhari Muslim).

Di akhir tulisan ini, sebagai muslim marilah kita banyak-banyak berdoa, semoga kita diberikan pemimpin yang adil, arif dan bijaksana, agar Indonesia menjadi Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofuur (Negeri yang Baik dan Memperoleh Ampunan Tuhannya). Aamiin. Wallahu A’lam Bish-shawab[]

indramayu (pondokhati), 4 April 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s