Presiden Ramadhan

Ada yang berbeda saat pemilihan presiden wakil presiden (president and vice president election) tahun 2014. Pasalnya, pemilihan ini berlangsung tepat di bulan mulia, Ramadhan. Setelah proses yang cukup panjang, akhirnya tanggal 9 Juli 2014 menjadi hari bersejarah bagi masyarakat Indonesia untuk menentukan presidennya sendiri secara langsung. Nantinya, Presiden terpilih diberi kesempatan untuk memimpin negeri ini 5 tahun mendatang. Hanya ada dua pasang calon saja, menyusut jika dibandingkan pemilihan 5 tahun lalu, ada 5 pasang calon yang berebut suara untuk bisa menjadi RI 1 dan RI 2. Dua pasang calon presiden dan wakil presiden tersebut adalah pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Bagi saya, mereka adalah putra-putra terbaik bangsa ini yang akan mengabdikan dirinya untuk menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia tahun 2014.

Namun sangat disayangkan. Para pendukung masing-masing calon presiden kurang bisa menahan diri. Mereka terjebak pada fanatisme berlebihan untuk mendukung calon presiden masing-masing. Tak jarang saling ejek antar pendukung calon tak bisa dihindarkan. Perang kata-kata dan gambar di media sosial sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Tiba-tiba saya mulai jengah. Kita seperti berperang melawan diri sendiri. Kita sepertinya tak malu menelanjangi diri sendiri. Bagi saya, siapapun calon presidennya, mereka adalah saudara kita yang mungkin berikhtiar untuk memperbaiki nasib bangsa ini. Maka, sudahi saja “perang kata-kata”, saatnya menahan diri untuk kebaikan bersama.

Sebenarnya, inilah waktu yang tepat untuk kita merenung dalam-dalam, memilih dengan teliti pemimpin kita 5 tahun mendatang. Apalagi bertepatan dengan bulan mulia, Ramadhan. Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi Rasul (utusan) saat bulan Ramadhan. Rasulullah Saw memimpin perang Badar dan memperoleh kemenangan saat bulan Ramadhan.

Tak usah muluk-muluk memilih pemimpin. Islam sudah memberikan kriteria yang tepat untuk seseorang yang berkeinginan menjadi seorang pemimpin (baca: presiden). Meskipun sederhana, kriteria ini berlaku universal dan menjadi syarat wajib seorang pemimpin.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki 4 sifat seperti yang dimiliki Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, yaitu : jujur (siddiq), dapat dipercaya (amanah), menyampaikan kebenaran (tabligh), dan cerdas (fathonah). Cukup 4 macam sifat itu yang bisa kitta jadikan indikator, apakah pemimpin itu baik atau tidak.

1. Jujur.
Sifat ini sangat penting dimiliki oleh seorang yang ingin menjadi pemimpin. Jujur dalam berbagai hal akan mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar seperti korupsi.

2. Dapat dipercaya.
Pemimpin yang dapat dipercaya akan sangat menentramkan rakyatnya. Segala tugas yang dibebankan kepadanya dilakukan dengan penuhi kehati-hatian. Ia percaya bahwa memimpin adalah amanah yang wajib ia jaga sepanjang masa kepemimpinan.

3. Menyampaikan kebenaran.
Segala sesuatu, baik atau buruk kepemimpinan akan ia sampaikan secara berimbang dan proporsional. Apa saja yang sudah berhasil ia lakukan, apa saja yang belum. Untuk yang belum, ia tak sungkan meminta saran dan kritik untuk perbaikan.

4. Cerdas.
Kecerdasan haruslah dimiliki oleh pemimpin. Cerdas intelektual, cerdas emosional, cerdas sosial dan cerdas spiritual. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, pemimpin yang baik akan merancang berbagai macam program-programhebat untuk perbaikan bangsanya di kemudian hari.

Selain itu, ada satu modal penting yang harus dimiliki oleh pemimpin selain keempat sifat tadi, yaitu bekal ketaqwaan kepada Yang Mahakuasa.

Terlepas dari itu semua, presiden kita bukanlah Nabi. Bukan pula Rasul yang dijaga sikap dan perilakunya oleh Tuhan. Mereka hanya manusia-manusia akhir zaman yang berikhtiar untuk memperbaiki nasib bangsa ini. Maka, marilah kita sama-sama berdoa. Semoga siapapun yang terpilih menjadi presiden nanti, dia akan ditolong oleh Allah Swt dalam mengemban amanat yang dibebankan rakyat kepadanya.

Maka mulai sekarang, berhentilah untuk menjelek-jelekkan lawan politik kita dengan berbagai cara. Ingat, kita adalah satu saudara, satu bangsa, satu manusia. Berhentilah berperang melawan diri sendiri. Lebih baik nyalakan api semangat untuk memperbaiki diri dengan jalan menghormati orang lain.

Indramayu, 3 Juli 2014/5 Ramadhan 1435 H.

One comment on “Presiden Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s