Lelaki-lelaki Kuat di Perpustakaan (1)

wahyu tanoto (magetan)“Siapakah orang terkuat di perpustakan?”

“Pak Emang”.

“Haaa? Siapa?”

“Pak Emang”, jawabku mantap.

Emang siapa sih Pak Emang sampe dijuluki lelaki terkuat segala? Apakah dia punya badan berotot mirip “Arnold Rwada-rwadaseger” dalam film Terminator? Hehe, tidak. Badannya biasa saja, standar-standar saja. Ataukah dia lelaki muda yang penampilan super keren? Bukan, dia lelaki paruh baya dengan gaya biasa saja. Lantas, mengapa dia dianggap sebagai lelaki terkuat? Karena dia duduk paling lama di perpustakaan.

Dia bisa duduk berlama-lama di perpustakaan, semenjak pagi sampai menjelang sore. Ya, hanya duduk saja. Sesekali berjalan untuk mengecek sesuatu. Wajar saja, karena Pak Emang adalah seorang ‘penjaga’ perpustakaan (bahasa kerennya pustakawan) di kampus kami. Bukan sekedar menjaga, tetapi sekaligus menyusun, merawat, meminjamkan, menerima kembali buku-buku yang ada di perpustakaan. Pakaian kebesarannya adalah baju kotak-kotak biasa yang dipadu dengan celana berbahan kain, ditambah kacamata baca. Sikap dan perilakunya sangat sopan, dengan tutur kata yang demikian santun. Dialah sosok lelaki yang bersahaja. Nyaris minim berbicara dan kadang tanpa ekspresi, tetapi sangaaat baik.

Pak Emang memang bertugas di perpustakaan kampus kami. Sebuah ruangan dengan ukuran tidak terlalu besar, dikelilingi dengan buku-buku yang kebanyakan berupa textbook dan skripsi/tesis mahasiswa. Tidak ada buku cerpen, novel atau kisah fiksi lainnya. Sehari-hari dia harus berkutat dengan buku-buku yang sama. Sering kulihat dirinya berdiam diri tanpa teman, menunggui dengan setia para pengunjung perpustakaan yang kebanyakan adalah mahasiswa. Hanya buku dan majalah yang menjadi temannya berbicara di tempat duduk keramat-nya. Kadang sesekali merapikan, menata ulang buku-buku yang berantakan karena ulah mahasiswa. Dia juga dengan sabar meminjamkan buku dan menerima kembali buku pinjaman lalu mencatatnya di pembukuan. Sekali lagi, yang membuatku salut dengannya adalah dia mampu bertahan duduk di tempat yang sama selama berjam-jam tanpa didera kebosanan sedikit pun. Kekuatan lainnya adalah dia hampir tidak pernah marah. Ketika kami telat mengembalikan buku atau menghilangkan sebuah buku, dari mulutnya hampir tidak pernah keluar makian atau ucapkan kasar. Hanya senyum dan sebuah kata bijak. Kok bisa sih?

Maka mengalirlah kekaguman demi kekaguman dari mulut kami tentang sosoknya. Aku saja, kalau disuruh berlama-lama di perpustakaan pasti tidak akan betah. Apalagi perpustakaan kampus dengan koleksi buku bacaan yang kebanyakan berupa materi kuliah, tanpa buku-buku fiksi. Tentu bukanlah hal yang mudah. Itulah mengapa kami sebut beliau sebagai sosok lelaki kuat dalam sudut pandang berbeda. Pekerjaan sebagai pustakawan memang kadang dianggap sepele oleh sebagian orang. Toh kerjanya cuma jaga perpus dan duduk saja. Apa susahnya? Tapi silakan anda coba saja. Sehariii saja. Bagi yang tidak terbiasa, tentu terasa sangat membosankan. Dan Pak Emang berhasil menaklukannya.

Seorang pustawakan ternyata punya tugas yang tidak bisa dianggap remeh loh. Menyusun katalog dan mencocokkan buku-buku bukan pekerjaan ringan. Apalagi jika jumlah bukunya mencapai ribuan. Perlu kejelian dan ketelitian. Dia juga harus memastikan bahwa semua buku menempati posisinya sesuai kode yang telah disusun. Ditambah lagi jika buku yang dipinjam mahasiswa itu telat dikembalikan dalam jangka waktu entah sampai kapan, atau bahkan hilang sama sekali. Cukup memusingkan, bukan? Sungguh, bagiku inilah pekerjaan ‘kecil’ yang membutuhkan kebesaran jiwa.

Hanya saja sebagian dari kita menganggap sepele tugas-tugas mereka. Ketika dia ada, kadang keberadaannya tidak dianggap. Dicuekin seolah gak ngaruh apa-apa dalam keseharian kita. Tapi ketika sang pustakawan itu gak masuk, sehariii saja, semua orang sibuk mencari. Hampir sebagian besar mahasiswa sibuk mencari sosok penting pemegang kunci perpustakaan. Jadilah Pak Emang menjelma primadona yang banyak dicari mahasiswa. Mereka sangat membutuhkan perpustakaan untuk mencari referensi tugas kuliah. Saat itulah terasa benar betapa pentingnya sosok Pak Emang di mata kami. Beliau menjelma dewa penyelamat yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Betapa pentingnya posisi dan kedudukan beliau, namun tanpa sadar kadang kita abaikan begitu saja. Maka aku mulai berfikir, cukupkah honor kesejahteraan beliau selama ini?

BERSAMBUNG…

-Mengenang SATU DASA WARSA PONDOKHATI (2005-2015)

sumber: Tulisan Ibnu Atoirahman dengan judul “Lelaki-lelaki Kuat di Perpustakaan” dalam antologi “One Day in Library” (Ida Mulyani, dkk, 2012)

Iklan
By pondokhati Posted in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s