Lelaki-lelaki Kuat di Perpustakaan (2)

i'ah sutiah (depok)Lelaki lain yang tak kalah kuat di dunia perpustakaan adalah Pak Dauzan Farouk. Sampai saat ini, belum hilang binar-binar kekagumanku pada sosok bersahaja itu. Seorang veteran pejuang kemerdekaan yang mengabdikan dirinya di jalan Tuhan melalui dunia perbukuan. Beliau rela dan ikhlas jika harus bersusah payah demi mencerdaskan anak bangsa meski usianya telah menginjak senja. Beliau merelakan rumahnya diisi dengan buku-buku dan majalah-majalah yang sebagian besar dibelinya dengan uang pensiunan veteran yang tidak seberapa jumlahnya. Beliau merelakan buku-bukunya dipinjam oleh siapapun yang menginginkan pengetahuan, tanpa bayaran sedikitpun.

Namun, niat yang baik kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Di dunia yang serba elektronik ini, semakin jarang orang untuk datang ke perpustakaan untuk membaca buku. Ditambah lagi, rendahnya minat baca di kalangan anak-anak karena berbagai faktor. Tak kurang akal, beliau pun membuat terobosan baru dengan cara langsung menjemput bola. Melalui gerakan “Majalah dan Buku Bergilir” (Mabulir), selama bertahun-tahun beliau mendatangi anak-anak jalanan sambil membawakan mereka buku-buku bacaan. Beliau pinjamkan buku-buku miliknya untuk anak-anak yang tidak pernah mampu membeli buku bacaan itu. Menurutnya, membaca merupakan kunci pengetahuan. Hanya dengan membaca, seseorang dapat memperoleh ilmu baru. Semua itu dilakukan dengan hati ikhlas, tanpa bayaran sedikitpun.

Melihat profil-nya di televisi, aku sungguh terenyuh. Seorang tua dengan wajah cahaya, menggunakan topi kebesaran pejuang veteran lengkap dengan bendera merah putih, tengah berjalan tertatih menjinjing setumpuk buku. Rasa cintanya pada bangsa ini mengalahkan tubuh ringkihnya yang terkikis digerogoti waktu. Dalam menjalankan tugas mulianya, ia kadang menyewa seorang tukang ojeg untuk membantunya mengedarkan buku-buku bacaan tersebut pada anak-anak yang ia temui di jalanan. Beliau pun dengan setia menunggui mereka sampai selesai membaca sambil sesekali memberikan nasihat tentang kehidupan. Begitu yang dia dilakukan setiap waktu. “Betapa mulia derma-mu pada bangsa ini, Pak!”. Sungguh, ini adalah pekerjaan sulit yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kuat. Ikhlas mendermakan dirinya di jalan kebaikan dengan tanpa bayaran sedikitpun. Tidak meminta imbalan kecuali dari Tuhan.

Masya Allah, aku benar-benar terhenyak dan malu sendiri. Ternyata masih ada orang seperti itu disaat semua orang mendewakan materi dan kedudukan. Ada seorang kakek tua dengan uang pas-pasan masih memikirkan nasib anak bangsanya. Adakah ini terpikirkan juga oleh para pemimpin bangsa ini? Apakah anggaran dana pendidikan yang mencapai 20 % itu bisa menjangkau orang-orang seperti Pak Emang dan Pak Dauzan Farouk? Duhai.. Lunglai rasanya jiwa ini mengenangnya. Teringat pada salah satu puisi yang pernah ditulisnya. Sebuah puisi sederhana yang akan terus mengisi relung jiwaku, bahwa hidup sejatinya hanyalah untuk memberi.

Berhentilah mencaci maki kegelapan. Lebih baik engkau nyalakan pelita. Untuk mereka yang mencari pengharapan. Tebarkan iman dengan cinta. Gubahlah dunia dengan prestasi. Jadikanlah hidupmu penuh arti. Dan bila sudah punya arti. Bolehlah bersiap untuk mati. Dan kalau kelak datang hari perjumpaan. Basahkan bibirmu dengan memuji Illahi Robbi. Laa Ilaaha Illallah. (Dauzan Farouk)

BERSAMBUNG…

-Mengenang satu dasa warsa PONDOKHATI (2005-2015)

sumber: Tulisan Ibnu Atoirahman dengan judul “Lelaki-lelaki Kuat di Perpustakaan” dalam antologi “One Day in Library” (Ida Mulyani, dkk, 2012)

By pondokhati Posted in BUKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s