[Fiksimini] Elegi Sore Hari

sawahDi bawah pohon kersen (Muntingia calabura), aku menatapimu dalam diam. Terduduk aku menyaksikan drama kehidupan bernama dirimu. Di ambang senja, engkau masih saja bergelut nestapa. Bersama lumpur yang masih melekat di tubuhmu, dan tetesan kehidupan di sebagian dahimu yang kini mulai mengering. Ada namaku di sana, yang kau catatkan bersama selarik doa kerasmu di sepanjang sore ini.

“Ini semua untukmu, Nak!” katamu dalam senyum.

Akhirnya aku tahu, baginya, lelah ini bukan nestapa tapi bahagia. Aku hanya bisa terdiam dalam pikiran yang tak bisa kuterjemahkan. Dan tiba-tiba saja ada yang mulai basah di hatiku, perlahan.

“Terima kasih untuk semuanya, Ayah” kata-kata itu hanya sampai di kerongkongan. Pekat.

Sebuah honda civic pun melintas. Pengendaranya seseorang dengan kopiah putih. Tampak juga kitab suci dan tasbih tergeletak di dashboard depan. Ia menyapa kami, lalu tertawa renyah yang lebih terdengar seperti merendahkan. Seketika aku iri padanya. Iri pada kemewahan. Ayah sepertinya tahu.

Baca lebih lanjut

Iklan

[Fiksimini] Dua Dia yang Berbeda

Dia lagi-lagi tumbuh di kepalaku. Tanpa permisi, ia singgah di mimpiku. Seseorang yang pernah membuatku merasa hancur dalam hidup. Mengintaiku dengan tanya yang sama seperti dulu. Dalam pikirku, tatapannya penuh selidik, dicampuri sedikit pelecehan dan sikap merendahkan. Sayangnya dia terlalu kuat untuk bisa kukalahkan. Dan tubuhku pun menjelma gigil, ditaburi ketakutan. Tanpa diduga, tiba-tiba ia datang.

“Maafkan aku” katanya sambil mengulurkan tangan.

Ia meminta maaf padaku? Meminta maaf pada seseorang yang pernah ia hancurkan impian-impian indahnya, dulu. Lalu, menurutmu apa yang harus kulakukan?

Dia lagi-lagi tumbuh di pikiranku. Tanpa permisi, ia singgah di mimpiku. Seseorang yang dulu pernah membuat hatiku berwarna merah jambu. Seseorang yang pernah membuatku tetap menunggu dengan setia. Tapi takdir berkata lain. Ia telah menggenapkan separuh jiwanya dan akhirnya membuahkan permata hati. Aku memang patah. Tapi akhirnya aku sadar, aku harus berdamai dengan keadaan. Aku pun telah melupakannya karena telah ada seseorang lain yang kini mengisi hidupku. Sampai akhirnya, sekali lagi takdir berkata lain. Pernikahannya tak bahagia dan berujung pada perpisahan. Tiba-tiba bersama dengan buah hatinya yang mungil itu, ia datang kembali padaku.

“A-apa k-kabarmu?” katanya dengan bibir tergetar.

Terdengar tanpa paksaan. Tapi aku tahu, dari sorot matanya, ia membutuhkanku. Lalu menurutmu, apa yang harus kulakukan?

Baca lebih lanjut

[Cerpen] Ibu Bejo

pasarSiang yang menyengat. Matahari yang gagah membuatku gerah. Kuseka peluh yang mulai membanjiri wajahku. Bakul sayur yang kugendong memang telah berkurang separuh. Kugadaikan nasibku dan nasib anakku dibakul ini. Lelaki yang selama ini menjadi tumpuan hidupku menghilang entah kemana. Empat tahun yang lalu, ia pamit akan ke kota untuk mengadu nasib. Sambil mengecup Bejo, buat cinta kami yang masih berumur tiga bulan, ia berjanji pulang saat lebaran tiba sambil membawa segepok uang. Ia pergi membawa segenggam harapan.

Tiap malam, aku menunggunya dengan hati gamang. Masih kuingat dengan jelas, malam lebaran aku menunggu di depan pintu rumah diiringi suara takbir yang terdengar dari surau di ujung jalan. Kang Dullah, lelakiku itu nyatanya tak pulang. Mungkin esok hari, esok hari, harapku. Tetapi Kang Dullah yang kutunggu tetap tak pernah pulang. Bahkan sampai hitungan keempat, tahun ini. Entah dimana, aku tak pernah tahu.

Maka tidak ada jalan lain, meski lelah yang mendera, di tengah karang ketidakpastian, aku harus berjuang seorang diri. Aku harus hidup meski tanpa Kang Dullah. Berjualan sayur mayur ke rumah-rumah penduduk menjadi rutinitas harianku. Hasilnya memang tidak seberapa, tetapi cukuplah untuk menyambung hidup kami berdua.

Ketika masih kecil, Bejo kutitipkan ke Mbak Ratna tetanggaku yang baik hati. Sampai usia tiga tahun, Bejo kerapkali kutitipkan. Terpaksa. Beruntungnya Mbak Ratna punya anak sebaya Bejo. Kadang ia pun merengek ikutan. Aku tak tega membawanya pergi berkeliling kampung. Bukan apa-apa, kalau sudah nangis, Bejo justru malah merepotkanku. Ia minta gendong. Maka semakin beratlah bebanku, menggendong Bejo dan bakul sayur.

Baca lebih lanjut

By pondokhati Posted in CERPEN

[Cerpen] Pengantin Semesta

“Aku pergi takkan lama” kata lelaki 30-an itu. Wanita yang di depannya hanya bisa tergugu dalam lidah kelu. Ia takut. Entah mengapa. Mungkin hanya perasaan wanita.

“Tapi bagaimana dengan anak kita?” katanya sambil memegang perutnya.

Lelaki itu setengah kaget. Jika harus memilih, ingin rasanya ia tak mau pergi. Baru tiga bulan ia menikahi wanita pujaannya, namun tugas itu memaksanya pergi juga. Ia harus pergi menjelajah angkasa, menetapi semesta. Setengah berbisik, “Jagalah ia untukkku. Jika saatnya ku kembali, aku akan mengajakmu, mengajak kita bertiga untuk menjelah angkasa bersama. Aku janji, aku takkan lama” katanya sambil mengecup kening wanita dan calon buah hatinya. Dialah Amir kepada Gina, istrinya.

“Aku sengaja membuatkan ini. Satu untukku, dan satu untukmu” kata lelaki itu sambil memasangkan  cincin yang ia lepaskan ikatannya untuk dirinya dan wanita di depannya. “Aku sungguh mencintaimu”.

Di samping wanita itu, ada lelaki serupa dengan wajah yang sama. Amir seperti memandang pada sebuha cermin. Padanya ia berkata, “Amar saudaraku, aku harus pergi untuk sementara. Kutitipkan dia padamu!”

Baca lebih lanjut

[Cerpen] Reuni Dua Hati

Ternyata, terlalu lama jadi pengangguran gak enak juga. Ini yang aku rasakan sekarang ini. Semenjak kelulusanku lima bulan yang lalu, kondisiku masih belum stabil. Sudah berkali-kali aku kirimkan lamaran kepada perusahan-perusahaan baik lokal maupun nasional. Tapi belum ada hasilnya. Beberapa wawancara kerja pun pernah aku lakukan. Tapi hasilnya sama saja. Mulanya sih biasa saja. Tapi lama-lama gak enak juga. Ibu sih gak mempermasalahkan hal ini. Dialah yang selama ini memberiku semangat. Tapi omongan dari tetangga cukup membuatku gak enak. “Udah jadi sarjana, masih nganggur. Capek-capek sekolah, mendingan anakku, cuma lulusan SD tapi sudah diterima kerja jadi TKW. Di luar negeri pula” begitu kira-kira. Aku jadi semakin gak enak hati. Ada segunung rasa malu, terutama pada ibu. Tapi ibu sungguh tak peduli. “Sudahlah, Nak. Jangan didengarkan omongan tetangga. Mereka gak ngerti permasalahannya”. Oh, ibu. Betapa aku mencintaimu. Dan karena ibulah, aku masih bersemangat mencari peruntunganku.

Baca lebih lanjut

[Cerpen] Badai Hati

Pikiranku masih digelayuti rasa penasaran dengan wanita yang kutemui. Nadia, sebuah nama yang mengingatkanku pada sebuah sosok yang lembut, bersahaja dan ketegaran jiwa. Sepanjang pertemuanku, belum pernah kulihat dirinya menangis, sampai tadi siang. Memang aku baru bertemu dia dua kali. Pertama, aku bertemu dengan dia tanpa sengaja disebuah tempat makan. Ia sedang bersama keluarganya untuk menghadiri sebuah pernikahan saudaranya. Waktu itu kami sempat ngobrol meskipun tidak banyak dan sempat bertukar nomor telepon. Dan kedua adalah tadi siang. Itu pun setelah kita janjian di telepon untuk bertemu. Aku yang memintanya. Makanya aku begitu bingung, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah semua yang kulakukan itu salah? Ataukah ada hal-hal lain yang membuatnya merasa sedih. Maka segera saja kuambil kembali ponsel-ku. Karena shock, aku belum sempat menelponnnya lagi. Ragu. Haruskah aku menelponnya? Atau kubiarkan saja menunggu waktu?

Uhh, rasanya aku jadi semakin pusing saja. Hatiku bergolak, seperti badai yang menerpa lautan luas. Karena tidak tahan didera rasa penasaran, segera saja kutelepon dirinya. Mulanya aku ragu untuk menekat tuts ponsel. Bolak balik jalan kesana kemari di ruang tamu. Sampai-sampai ibu menjadi penasaran.

Baca lebih lanjut

[Cerpen] Sandaran Jiwa

cincinHatiku resah didera gelisah. Otakku kaku didera rindu. Rasa apakah ini yang membuat diriku seperti seorang pesakitan. Dicabik gelisah dan rindu yang datang beruntunan. Oh, cinta. Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? Rasanya tidak nyaman jika tidak kuungkapkam rasa ini. Kuingin seluruh semesta tahu, jika ada seseorang, di sudut ruangan sempit ini sedang merasakan trance, tengah dimabuk asmara. Hanya sosok itu yg terbayang dibenakku. Sebuah sosok yang mengingatkan diriku akan sebuah ketegaran jiwa, kehalusan budi dan sebuah kesederhanaan yang bersahaja. Rasanya, ingin sekali aku bertemu dengan dirinya sekali lagi, lagi dan lagi. Sekedar menggenapkan ruang rindu yang kosong di salah satu lorong jiwaku. Oh, sungguh. Penyiksaan terasa begitu indah. Dan aku nekat keluar rumah, nongkrong di depan halaman rumah seperti orang ‘aneh’. Memandang langit, memandang bintang. Semoga saja ada yang jatuh dan mengisi lubang di hatiku. Memandang lukisan wajahnya yang tersusun dari rangkaian bintang-bintang yang disebut rasi. Aku benar-benar tak sabar menunggu pagi yang mengantarkanku pada sebuah keputusan penting. Ya, karena cinta tak bisa menunggu lagi: aku akan melamarnya esok hari.

Baca lebih lanjut