Jecece, Ayem Comiiing…

Gak sengaja nemu tulisan jaman dulu di buku diary masa lalu. Hohoho… ternyata sudah delapan tahun usia tulisan ini. Sengaja di ketik ulang dan tidak diedit. Ya ampyuuuun bahasanya masih kacow amburadul gini. Hehe… Inilah kali pertama aku naik KRL Jakarta-Bogor. Ini juga kali pertama belajar menulis kisah perjalanan dengan temen-temen Weather 37. Jadul bangeeet. Haha… Sekedar menggenapkan rindu masa lalu yang masih menggebu. Hahay!

***

 

“Loh, gimana sih? Katanya mau berangkat pagi. Tapi kok masih pada tidur?” kulihat tiga penghuni DC 5-6  Baranangsiang Bogor masih pada ‘berserakan’ di kamar mereka.

“Iya, nih. Katanya mau berangkat jam tujuh. Bentar lagi kan jam tujuh. Woooi. Bangun lu! Bangun!” Erwin membangunkan mereka bertiga dengan suara gaduhnya. Dan mereka pun akhirnya dengan terpaksa bangun dari ‘sarang’ mereka.

Baca lebih lanjut

Iklan

Curug Maja: Flavour of Adventure

Gambar (51)Hari itu mungkin salah satu hari yang tak terlupakan. Hari dengan tanggal unik 11-10-09 di hari minggu yang cerah. Temen-temen udah punya rencana, sehabis ujian tepat hari minggu ini kita mo jalan-jalan. Setelah maju mundur, jadilah enam orang yang mo berangkat yakni aku, Rojans, Betrix, Gouz, Eftar, Faizee berangkat pagi-pagi naik motor. Janjian dateng jam 7, pada ngaret dan jam 8-an akhirnya baru bisa berangkat Tadinya mo ke cipaniis ajah. Tapi Eftar ‘ngotot’ banget pengen ke curug maja. Berdasarkan bisik-bisik tetangga (?) konon katanya,  jalan menuju kesana tuh cukup ‘mengerikan’. Setelah ngotot-ngototan melalui sidang paripurna kayak anggota de-pe-er (hehehe) akhirnya, kita pergi ke…. Curug Maja. Huihh..

Aku naik motor bareng Rojans, Eftar bareng Faizee dan Beatrix bareng Gouz. Semua berjalan normal, sampai di desa Palabuan Kec. Sukahaji Kab. Majalengka terjadilah hal yang mungkin memang harus terjadi. Duaar… Slaraaaaaak! Aku terpeleset naik motor ditikungan tajam. Untung gapapa, cuma lecet-lecet ajah. Smua berhenti dan panik. Sebenernya, aku sendiri gak terlalu panik. Gimana neh, apa balik lagi ajah gara-gara kecelakaan. Mm… Tanggung sudah separo jalan lebih. Laanjuuut ajah meskipun agak meringis2. Ternyata lecetnya lumayan juga. Ganti Rojans yg nyetir dengan satu syarat, “Jangan ngebut yaa!”

Baca lebih lanjut

Pelabuhan Dadap : Tempat Mengusir Sepi Hati

aqMemandang laut lepas. Seperti melihat kebebasan. Melihat keluasan pikiran yang tanpa beban. Meski hanya seorang diri, namun justru kedamaian yang kutemui. Mendengar debur ombak memecah batu karang buatan. Seperti mendengar nyanyian hati yang terus bersenandung melipur hati yang lara. Meski ramai suara pecahan ombak, namun justru ketenangan yang kurasakan. Melihat nelayan melempar jala. Pergi dan datang dengan perahu menantang laut yang luas. Seperti melihat akan diriku bahwa hidup adalah tantangan, pengorbanan dan keberanian yang harus dijalani. Ada yang datang dan pergi di dermaga ini. Seperti juga kehidupan dan kematian yang terus berganti. Merasakan semilir angin menerpa nurani. Seperti merasakan jiwa ini yang lepas, mengembara ke alam imajinasi. Membentangkan sayap-sayap kata, menerbangkannya di langit dermaga.

Baca lebih lanjut