Dua Lelaki yang Membuat Tempat ini Hidup Kembali

kunjungan poti awal“Dan setiap kisah, sejatinya adalah pengetahuan yang diajarkan Tuhan untuk kita” (Ibnu Atoirahman)

Ah, mungkin aku lupa, kapan aku mulai mengenal mereka. Tapi, aku takkan lupa ketika ada dua lelaki yang datang ke tempat ini membawa segudang harapan dan sebongkah rasa penasaran. Lelaki-lelakibertubuh tegap, tinggi dan tampak berwibawa, muda dan bersemangat baja. Tempat ini pernah mati. Semenjak teman yang ikut membantuku mengenalkan sekaligus menjadi penghubung tempat ini dengan dunia luar telah menyelesaikan pendidikannya. Ia pindah entah kemana. Praktis tempat ini kembali sepi, hanya sesekali dikunjungi anak-anak santri,itupun tak seberapa karena mereka hanya datang untuk mengaji. Lebih dari itu tidak.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ziarah ke Pusara Rindu

pusaraSemalam kau mendatangiku, bersantai sejenak di bale-bale kayu. Aku terpekik menahan gembira. Entah mengapa aku selalu bahagia setiap kali kau datang. Mungkin ini rindu. Dan, aku sungguh lupa kapan kali terakhir kau mengunjungiku. Maka langsung saja kucium tanganmu haru seraya memohon selarik doa atas segala yang menimpaku.

Ternyata, kau masih sama seperti dulu. Ada senyum yang mendamaikan di balik teduh wajahmu. Mungkinkah kau sengaja hadir untuk menguatkanku bahwa aku harus tetap ada? Entahlah. Lalu, tiba-tiba saja hari menjadi pagi saat wajahmu pergi.

Dan, ketika matahari mulai tergelincir, segera saja kugegaskan langkahku, kulajukan sepeda motorku menujumu. Hari ini, aku mengunjungimu di antara rerimbunan pepohonan dibaluri aroma sunyi. Perlahan, mulai kularungkan kalimat-kalimat suci untukmu. Diselingi hembus angin perlahan, tasbih burung-burung dan dzikir tetumbuhan di samping persinggahanmu. Pada sesosok raga yang terbaring tak kasat mata. Pada sebujur tubuh yang terbenam di bawah tanah tepat di hadapanku. Lihatlah, aku datang kepadamu, berbagi resah di antara gunungan gelisahku.

“Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afiihi wa’fu ‘anhu.” Baca lebih lanjut

Lelaki yang Hendak Menipu Tuhan

Setiap kali Rasulullah bercerita, para Sahabat selalu antusias untuk mendengarkannya. Rasulullah Saw adalah seorang pencerita yang baik. Setiap kata yang dikeluarkan dari mulutnya adalah kebenaran, meskipun diselingi dengan canda tawa. Ini tak lain agar para sahabat tertarik dan secara tidak langsung belajar tentang keimanan dan ajaran Islam dari kisah-kisah penuh hikmah.

Dalam buku Canda Bersama Rasulullah (Isnaeni Fuad), salah satu cerita yang pernah dikisahkan Rasulullah Saw dalam suatu majelis adalah kisah tentang orang bodoh yang hendak menipu Tuhannya dalam suatu pengadilan di akhirat. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, “Suatu ketika kami bersama Rasulullah. Sambil tersenyum, beliau lalu berkata, ‘Tahukah kalian mengapa aku tersenyum?’ Kami pun menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’

Kemudian beliau bercerita kepada kami tentang seseorang yang berdialog dengan Tuhannya. Orang itu berkata, ‘Ya Allah, apakah aku bisa diselamatkan dari kezaliman?’ Allah menjawab, ‘Ya, (kamu bisa diselamatkan dari kezaliman).’

Selanjutnya, orang tadi pun berkata, ‘Jika demikian, aku tidak akan memperkenankan seseorang menjadi saksi atas diriku, kecuali aku sendiri.’

Baca lebih lanjut

Penghuni Terakhir yang Masuk Surga

Sebagaimana kita ketahui, dalam I’tiqad Ahlusunnah Wal Jama’ah, orang kafir akan kekal selamanya di dalam neraka. Berbeda dengan orang kafir yang kekal di neraka, orang mu’min (yang beriman), tetapi memiliki dosa tidak akan kekal di neraka. Orang mu’min yang memiliki dosa dan mati sebelum bertaubat akan masuk ke dalam neraka untuk sementara. Tetapi setelah hukuman selesai, ia akan dikeluarkan dari neraka dan masuk dimasukkan ke dalam surga.

Dalam buku Canda Bersama Rasulullah, Isnaeni Fuad menceritakan sebuah kisah unik tentang seorang penghuni neraka yang terakhir masuk surga. Kisahnya sendiri diceritakan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya dengan tujuan untuk menambah kemantapan iman mereka.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan Rasulullah Saw pernah bercerita, “Aku mengetahui orang yang paling akhir keluar dari neraka dan paling akhir memasuki surga. Dia keluar dari api neraka sambil merangkak.

Setelah berhasil keluar dari jurang neraka, kemudian Allah berkata kepadanya, ‘Pergilah dan masuklah ke surga.’

Baca lebih lanjut

Tentang Nama dan Sebuah Cerita

Dia mengenalkanku dengan seorang gadis SMA bermata sipit, Aisyah Putri. Gadis berjilbab yang lincah, aktif dan punya banyak teman. Aku juga berkenalan dengan keempat kakak lelakinya yang gokil. Vince, yang higienis (calon dokter), Harap, si plontos yang nyentrik, Hamka yang suka naik gunung, dan Iid yang jago karate tapi hobi masak. Hehe.. Dari Aisyah, aku mengenal islam dengan lebih mudah. Renyah tapi penuh makna. Khas remaja.

Di lain hari, dia mengenalkanku dengan Dinda. Seorang gadis yang fotonya mirip dirinya. Mengenal Dinda sungguh membuatku terenyuh. Bagaimana tidak, Dinda adalah potret muslimah tegar yang menghadapi kerasnya kehidupan di lingkungan penuh maksiat (daerah lokalisasi). Kemiskinan yang mendera, bapak yang pemabuk dan penjudi, adik-adik yang butuh belaian kasih sayang, kakak lelaki yang menghilang, dan ibu yang akhirnya meninggal karena sakit. Lengkap sudah penderitaan seorang Dinda. Namun, ia tak menyerah. Hingga akhirnya, Tuhan pun mengulurkan tangan untuk menolongnya. Baca lebih lanjut

3 Lelaki Misterius dalam Al Qur’an

Saya pernah membaca, ada tiga orang lelaki yang keberadaannya masih kontroversial. Apakah mereka seorang Nabi/Rasul? Ataukah seorang wali? Ataukah hanya manusia biasa yang diberikan kelebihan oleh Allah Swt. Saya sendiri menyebutnya sebagai lelaki-lelaki mistirius yang disebutkan dalam Al Qur’an. Bagaimana tidak, Al Qur’an tidak menjelaskan secara rinci tentang sosok mereka. Hanya saja, dari mereka kita bisa memperoleh begitu banyak pelajaran berharga.

Baiklah, karena rasa penasaran, saya pun mencari ayat-ayat tentang mereka. Inilah mereka dengan kisah-kisah menakjubkan yang diceritakan langsung dari Al Qur’an.

Baca lebih lanjut

Dari Pena untuk Dunia

Saya memang bukan anggota FLP. Maksudnya, saya tidak pernah terdaftar secara resmi di salah satu cabang FLP. Tetapi saya tahu FLP dari dulu. Sekitar tahun 2000/2001. Gara-garanya adalah pernah baca majalah yang isinya sebagian besar adalah cerpen, Annida. Kerennya lagi, cerpen-cerpen itu bukan kisah cinta picisan, tetapi kisah-kisah menakjubkan full hikmah. Selalu ada yang membekas di hati ketika selesai membacanya. Ruhani saya yang nge-drop serasa di-charge kembali. Tiba-tiba saja, ghirah untuk mempelajari islam pun meningkat secara signifikan. Seperti ada semangat yang buncah ketika membaca epik-epik keren dan penuh perenungan karya Mbak Helvy Tiana Rosa (HTR). Saya juga suka dengan serial Nida-nya Mbak Dian Yasmina Fajri yang sangat-sangat remaja namun tetep islami.

Dari majalah inilah, saya dapat info tentang sebuah organisasi kepenulisan yang saat itu baru berkembang. Namanya Forum Lingkar Pena (FLP) yang konon digagas oleh Mbak Helvy, Mbak Muthmainnah dan Mbak Asma Nadia sebagai founding mothers. Hehe. Belakangan saya akhirnya tahu, Mbak Asma adalah adik kandung Mbak Helvy. Asli! 🙂

Baca lebih lanjut

Siapakah yang Hajinya diterima Tahun ini?

Bulan Dzulhijjah mungkin sudah lewat, berganti dengan Muharram yang mulia. Tetapi antusiasme warga muslim Indonesia sepertinya tak surut begitu saja untuk bisa menggenapkan rukun Islam kelima. Tengok saja, di Indramayu misalnya, di penghujung tahun 2011 ini, tercatat sudah lebih dari 700 orang mendaftarkan diri ke Bank Penerima Setoran Haji. Itu juga untuk pendaftaran tahun 2018. Subhanallah, tujuh tahun menunggu untuk bisa daftar haji. Dan setiap hari, ada saja orang yang mendaftar. Kondisi ini dipermudah dengan adanya dana talangan dari beberapa bank sebagai keringanan untuk mendapatkan porsi haji. Saya jadi tersenyum sambil bertanya-tanya, “Mungkinkah taraf hidup orang Indonesia sudah meningkat?”

Secara bertahap, jamaah haji Indonesia sebagian besar telah dipulangkan ke tanah air. Jamaah haji Kab. Indramayu yang tergabung dalam empat kloter (50, 58, 66 dan 75) tahun 2011 ini pun demikian. Berduyun-duyun keluarga dan handai tolan menjemput mereka dengan kerinduan tak terkira. Rasa sukacita tergambar jelas dari wajah mereka. “Ahlan Wa Sahlan, Ya Hujjaj..” Semoga kembali membawa predikat haji mabrur yang balasannya tak lain adalah surga. Aamiin..

Tiba-tiba saja, saya teringat sebuah kisah menakjubkan yang diceritakan Abu Fajar Al Qalami dalam sebuah buku berjudul ‘Koleksi Cerita Penggugah Kalbu”. Dan aku ceritakan kembali kisah ini padamu, sahabat. Untuk kita renungkan bersama-sama pada akhirnya.

Baca lebih lanjut

Wanita Berkatup Jantung Platina

Secara pribadi, aku memang tidak kenal dekat dengannya. Aku pertama kali mengenalnya lewat sebuah cerita. Namanya mulai ku kenal ketika membaca serial ‘La Tansa Café’ di majalah annida. Bukunya yang pertama ku baca adalah kumpulan cerpen ‘Biarkan Aku Memulai’. Lalu di hari yang berbeda, aku juga membaca ‘Bayangan Bidadari’.

Ketika zaman facebook melanda (sekarang pun masih), kutemukan namanya di halaman rumahku. Ingin rasanya aku mengenal dan menjalin pertemanan dengannya. Dan tentu saja, aku sangat senang bisa mengenal penulis hebat seperti dirinya. Bagiku, sosoknya adalah pribadi yang hangat dan rendah hati. Ketika akunnya hampir penuh karena begitu banyak orang yang ingin berteman dengannya, aku sempat bercanda,

“Wuah, semakin banyak nih, fans-nya, mbak?”

“Bukan fans, tapi friends (teman)” jawabnya rendah hati.

Satu hal yang masih kuingat darinya, hampir setiap kali ada ‘teman facebook’nya yang ultah, ia berusaha menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat, memberikan seuntai doa dan nasihat yang indah. Aku membaca sebuah ketulusan. Sesekali ia berbagi curhat dan pendapat sambil membalas komentar. Ia tetap saja hangat dan terasa akrab.

Baca lebih lanjut

3 Pertanyaan 1 Jawaban

Ada sebuah kisah menarik yang pernah saya temukan ketika membaca buku ”jaman penjor” karya GusHar Wegig Pramudito. Sebuah kisah tentang seorang pemuda cerdas dengan tiga pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Dan tulisan ini adalah adaptasi dari kisah tersebut dan saya tambahkan dialognya biar lebih dramatis. Hehe.. Berhari-hari ia mencari jawabnya. Ia baca buku-buku. Ia pun bertanya pada banyak orang. Tetapi jawaban yang didapatkannya tak kunjung memuaskan hati. Pemuda itu terus mencari. Rasa penasarannya tinggi. Selayaknya pemuda idealis yang selalu berpikir kritis akademis, ia kembali membaca buku-buku lain. Berhari-hari ia terus memikirkan hal ini. Sampai-sampai ia kurang tidur dengan pikiran lelah bercampur rasa gelisah yang mendera jiwanya.

Lalu, apa sebenarnya tiga pertanyaan yang membuatnya risau selama ini? Baiklah, barangkali anda mungkin bisa menjawabnya. (1) Jika Allah itu ada, mengapa tidak terlihat bahkan tidak bisa digambarkan? ; (2) Apakah takdir itu? ; dan (3) Setan terbuat dari api dan akan dimasukkan ke dalam neraka yang penuh api. Tentu saja setan tidak merasakan siksaan tersebut. Benarkah demikian?

Bagaimana dengan jawaban anda?

Baca lebih lanjut