Dari Pena untuk Dunia

Saya memang bukan anggota FLP. Maksudnya, saya tidak pernah terdaftar secara resmi di salah satu cabang FLP. Tetapi saya tahu FLP dari dulu. Sekitar tahun 2000/2001. Gara-garanya adalah pernah baca majalah yang isinya sebagian besar adalah cerpen, Annida. Kerennya lagi, cerpen-cerpen itu bukan kisah cinta picisan, tetapi kisah-kisah menakjubkan full hikmah. Selalu ada yang membekas di hati ketika selesai membacanya. Ruhani saya yang nge-drop serasa di-charge kembali. Tiba-tiba saja, ghirah untuk mempelajari islam pun meningkat secara signifikan. Seperti ada semangat yang buncah ketika membaca epik-epik keren dan penuh perenungan karya Mbak Helvy Tiana Rosa (HTR). Saya juga suka dengan serial Nida-nya Mbak Dian Yasmina Fajri yang sangat-sangat remaja namun tetep islami.

Dari majalah inilah, saya dapat info tentang sebuah organisasi kepenulisan yang saat itu baru berkembang. Namanya Forum Lingkar Pena (FLP) yang konon digagas oleh Mbak Helvy, Mbak Muthmainnah dan Mbak Asma Nadia sebagai founding mothers. Hehe. Belakangan saya akhirnya tahu, Mbak Asma adalah adik kandung Mbak Helvy. Asli! 🙂

Baca lebih lanjut

Iklan

Putri Kejawen: Mutiara Putih dalam Hitam Jelaga

Namanya Dewi. Dewi Sakrendha, anak perempuan yang lahir terbungkus selaput. Ibunya bernama Ratmi, seorang wanita berkulit putih dan cukup cantik, berasal dari Jogja keturunan priyayi. Ayahnya bernama Sukirman. Warna kulitnya yang legam dan kebiasaannya memakai penadon hitam membuatnya sering dipanggil Ki Ireng. Lelaki paruh baya itu asli suku Tengger, suku terpencil di lereng gunung Bromo. Berbeda dengan ibunya yang lembut dan keturunan bangsawan, Ki Ireng berwatak keras dan berprofesi sebagai dukun sakti, pengabdi ilmu hitam. Dari sinilah aku tahu, Dewi adalah putri Kejawen, putri yang dilahirkan dari sebuah tradisi mistik masyarakat Jawa yang kental.

Namun, Allah tidak ingin membiarkan Dewi lebur menjadi hitam meski dalam darahnya mengalir warisan kehitaman ayahnya. Ia sungguh berbeda. Ia menjelma mutiara putih dalam hitam jelaga. Awalnya, Dewi memang terbiasa dengan serentetan upacara kebatinan yang biasa dilakukan ayahnya. Tetapi ketika ia bersekolah di kota, wawasan keislamannya pun bertambah. Jiwanya mulai berontak. Ia ingin mendobrak tradisi masyarakatnya yang kental pada ritual mistik, ilmu gaib, tahayul dan khurafat. Ia ingin nilai-nilai Islam teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Pergolakan batin pun tercipta. Terlebih, ikatan cinta yang kuat antara ayah dan anak ini membuat tugas ini kian sulit saja. Dewi tak ingin menyakiti hati ayah yang sangat dicintainya. Maka, tak putus doa dari bibirnya agar ayahnya kembali pada jalan kebenaran semula.

Baca lebih lanjut

Wanita Berkatup Jantung Platina

Secara pribadi, aku memang tidak kenal dekat dengannya. Aku pertama kali mengenalnya lewat sebuah cerita. Namanya mulai ku kenal ketika membaca serial ‘La Tansa Café’ di majalah annida. Bukunya yang pertama ku baca adalah kumpulan cerpen ‘Biarkan Aku Memulai’. Lalu di hari yang berbeda, aku juga membaca ‘Bayangan Bidadari’.

Ketika zaman facebook melanda (sekarang pun masih), kutemukan namanya di halaman rumahku. Ingin rasanya aku mengenal dan menjalin pertemanan dengannya. Dan tentu saja, aku sangat senang bisa mengenal penulis hebat seperti dirinya. Bagiku, sosoknya adalah pribadi yang hangat dan rendah hati. Ketika akunnya hampir penuh karena begitu banyak orang yang ingin berteman dengannya, aku sempat bercanda,

“Wuah, semakin banyak nih, fans-nya, mbak?”

“Bukan fans, tapi friends (teman)” jawabnya rendah hati.

Satu hal yang masih kuingat darinya, hampir setiap kali ada ‘teman facebook’nya yang ultah, ia berusaha menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat, memberikan seuntai doa dan nasihat yang indah. Aku membaca sebuah ketulusan. Sesekali ia berbagi curhat dan pendapat sambil membalas komentar. Ia tetap saja hangat dan terasa akrab.

Baca lebih lanjut

Sejuta Cinta di Sydney: Rindu Kisah Negeri Kanguru

“Aku habis jalan-jalan dari Australia lho.”
“Whatzz?”
“Iya, bener. Sama Muhammad Ayyup alias Joop. Ketemu Jake, Yulian, Paul Morisson, Natalie, Mr dan Mrs. Winston, Edward, Mr. William, Brother Rizki, Brother Yusuf, Brother Ja’far. Dan masih banyak yang lainnya.”
“Benarkah?”
“Beneraaan. Tapi … cuma dari novel. Hehe..”
Tuiiiing, gubraks. Haha…

Terbukti kan, kalo membaca itu bikin kita serasa mengelilingi dunia. Ya, bener banget tuh. Buku yang kubaca kali ini, judulnya “Sejuta Cinta di Sydney”, sebuah novel duet karya Mbak Dewi Fitri Lestari dan Mbak Rahmadiyanti. Sebenarnya novel ini adalah cerita bersambung yang dimuat di Majalah annida jaman dulu. Dulu aku cuma baca sekilas dan tidak utuh, karena ada Edisi Annida yang tidak aku punya. Akhirnya, aku punya kesempatan juga membaca novel itu secara utuh. Aku membeli novel terbitan Syaamil (2004) ini dari Mbak Dewi ‘Dedew’ Rieka dari Toko Ibu Bagus-nya beberapa waktu yang lalu. Bagus. Gak nyesel deh belinya. Aku menamatkanya dalam 2 hari. Padahal sih bisa lebih cepat lagi. Hanya saja, aku membaca sewaktu senggang saja.

Baca lebih lanjut

Serial Nida dan Dakwah Remaja

Menurut O. Solihin, penulis terkenal buku “Jangan Jadi Bebek”, banyak cara yang bisa dilakukan remaja muslim khususnya yang udah paham dan ngerti banget betapa pentingnya menyampaikan islam kepada orang lain. Dengan semangat jihad memmelatibara (dan kadang meledak-ledak), mereka tampil ‘all out’ membagi pengalamannya baik itu dengan bahasa lisan maupun dengan bahasa tulisan. Ada juga yang tampil dengan kelembutan. Namun tak sedikit pula yang menyampaikan dakwah mereka dengan cara yang lebih mengena di hati remaja itu sendiri melalui tulisan-tulisan super lucu bin konyol namun masih berada dalam koridor syariat islam.

Seperti inilah gaya penulisan Mbak Dian Yasmina Fajri dalam buku “Apapun Namanya Melati Tetap Harum” dan “Puri Kurcaci”. Meski Mbak Dian bukan lagi disebut sebagai remaja, namun gaya penulisan dalam kedua buku yang akan saya bahas ini benar-benar remaja banget. Pokoke feel teenlit-nya kerasa banggets deh. Namun berbeda dengan novel atau serial teenlit sekarang yang gak jauh dari masalah cinta en cinta, Mbak Dian lebih hebat lagi. Memadukan unsur dakwah islami di setiap tulisannya dalam kedua buku ini. Membaca buku ini dijamin gak bakalan bosen, karena bahasanya khas remaja. Kadang lucu, kocak bahkan gokil namun esensi dakwah islamnya kerasa banget. Kita seolah belajar pengetahuan islam tanpa sadar, karena disampaikan secara lentur, tanpa terkesan menggurui.

Baca lebih lanjut