Menuju Indramayu Beradab!

kijang indramayuTak terasa sudah memasuki tahun baru Hijriyah 1437 H. Tak terasa pula, kota kita yang tercinta, Indramayu, telah sampai di titik usia 488 tahun, tepat di hari jadinya 7 Oktober 2015 yang lalu. Sebuah angka yang cukup untuk memantapkan diri sebagai kota yang patut diperhitungkan dalam kancah nasional. Apa yang sudah dicapai? Insya Allah banyak. Terlepas dari kekurangan di sana-sini yang mesti diperbaiki, Indramayu telah mengalami perubahan yang demikian pesat dibandingkan puluhan tahun silam. Semoga perubahan ini selalu ke arah kebaikan.

Satu hal yang perlu disoroti adalah budaya membaca dan menulis. Ini pula yang menjadi PR bagi pemimpin Indramayu ke depan. Milan Kundera, seorang penulis dari Ceko pernah mengatakan, “Jika ingin menghancurkan peradaban sebuah negeri, maka hancurkan saja buku-bukunya.” Adagium ini bisa jadi benar, karena buku merupakan sumber ilmu. Lebih dari itu, buku merupakan bukti sejarah bahwa suatu negeri pernah ada. Indramayu bisa dikenal sampai sekarang ini, berulangtahun tanggal sekian, siapa yang membangun pertama kali, siapa saja yang pernah memimpin, bisa diketahui dari fakta-fakta sejarah masa silam. Melalui prasasti dan manuskrip-manuskrip kuno, kita akhirnya tahu, bagaimana peradaban Indramayu bermula. Arya Wiralodra dan Nyi Endang Dharma menjadi dua ikon penting dalam babad sejarah Indramayu. Baca lebih lanjut

Iklan

Pelabuhan Dadap : Tempat Mengusir Sepi Hati

aqMemandang laut lepas. Seperti melihat kebebasan. Melihat keluasan pikiran yang tanpa beban. Meski hanya seorang diri, namun justru kedamaian yang kutemui. Mendengar debur ombak memecah batu karang buatan. Seperti mendengar nyanyian hati yang terus bersenandung melipur hati yang lara. Meski ramai suara pecahan ombak, namun justru ketenangan yang kurasakan. Melihat nelayan melempar jala. Pergi dan datang dengan perahu menantang laut yang luas. Seperti melihat akan diriku bahwa hidup adalah tantangan, pengorbanan dan keberanian yang harus dijalani. Ada yang datang dan pergi di dermaga ini. Seperti juga kehidupan dan kematian yang terus berganti. Merasakan semilir angin menerpa nurani. Seperti merasakan jiwa ini yang lepas, mengembara ke alam imajinasi. Membentangkan sayap-sayap kata, menerbangkannya di langit dermaga.

Baca lebih lanjut